Sejarah Pembangunan Ka'bah


Allah SWT berfirman "Dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail seraya berdo'a : Ya Tuhan kami terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 127).

Sepintas bahwa ayat di atas mengatakan bahwa Nabi Ibrahim as adalah orang yang pertama membangun Ka'bah di permukaan bumi ini, seperti dipahami oleh sebagian kaum muslimin. Padahal bila dicermati, sebelum  Nabi Ibrahim as menginjakkan kakinya ke tanah Makkah sudah ada bangunan Ka'bah yang telah dibangun oleh malaikat dan generasi sebelum  Nabi Ibrahim as. Hal itu dapat dipahami dari kata "Yarfa'u" meninggikan berarti meninggikan bangunan yang suda ada. Para ahli sejarah mengatakan, setidaknya ada dua belas generasi yang ikut berjasa dalam membangun Ka'bah yang ada sampai saat sekarang ini yaitu :

Generasi Pertama: Ka'bah dibangun oleh Malaikat, dua ribu tahun sebelum Nabi Adam as diciptakan, Malaikat sudah membangun Ka'bah di bumi ini atas perintah Allah SWT. Anda bisa baca selengkapnya dalam artikel Siapakah yang Pertama Kali Tawaf di Baitullah? Penjelasan ini sekaligus sebagai bantahan pada orang-orang Nasrani bahwa rumah yang pertama dibangun adalah Baitul Maqdis. Itu generasi pertama pembangunan Ka'bah,

Generasi kedua : Pembangunan dilanjutkan oleh Nabi Adam as setelah dia keluar dari dalam surga, dan menetap di bumi melaksanakan tawaf, dan merenofasi bangunan Ka'bah serta memohon ampun kepada Allah SWT. Atas kekhilafan yang telah dilakukannya. Beliaulah manusia pertama merenofasi bangunan Ka'bah dan tawaf di Ka'bah (Ibnu Abbas Ibid: 37)

Generasi Ketiga : dilanjutkan oleh putra Nabi Adam as bernama Syis, setelah Nabi Adam as wafat. Bangunan ketika itu terdiri dari tanah dan batu, dan bangunan tersebut dapat bertahan sampai Nabi Nuh as. Ketika "Tsunami besar" terjadi pada masa Nabi Nuh as, Ka'bah roboh dan porak poranda. Sampai pada generasi ketiga ini menurut ahli sejarah, tidak dijumpai keterangan di dalam Al Quran dan hadits-hadits Shahih baru

Generasi Keempat : yaitu generasi Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as, dicantumkan sejarahnya di dalam Al Quran di antaranya ayat 127 surat Al Baqarah seperti di bawah judul di atas. Ayat di atas menceritakan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as merenofasi Ka'bah dengan meninggikan pondasi yang tertimbun oleh banjir pada zaman Nabi Nuh as,

Setelah  Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as meletakkan dasar-dasarnya maka dibangunlah rukun-rukunnya. Dan Nabi Ibrahim as mengatakan kepada Nabi Ismail as, ”Wahai anakku, carikanlah untukku batu hitam dari daerah India, dahulunya ia adalah batu yakut yang paling putih. Dahulu batu itu dibawa oleh Nabi Adam as tatkala diturunkan ke bumi dari surga namun kemudian berubah warnanya menjadi hitam karena dosa-dosa manusia. Nabi Ismail as pun membawa sebuah batu namun ia mendapatkan batu hitam itu sudah berada disalah satu sudut. Ia pun bertanya kepada ayahnya, ”Wahai ayahku siapa yang mendatangkan batu itu kepadamu? Nabi Ibrahim as  menjawab,”Dia adalah yang lebih rajin darimu.” Maka mereka berdua membangunnya,

Nabi Ibrahim as dengan dibantu oleh Nabi Ismail as, beliau memulai pembangunan Ka'bah dengan membuat tinggi Ka'bah menjadi 9 hasta, dan lebarnya 32 hasta dari rukun Aswad sampai rukun Syami, yang di sisinya terdapat Hijr Ismail. Beliau melebarkan antara rukun Syami dengan rukun Gharbi (Barat) menjadi 22 hasta, dan antara rukun Gharbi dengan rukun Yamani menjadi 31 hasta, serta antara rukun Yamani dengan rukun Aswad menjadi 20 hasta.

Penulis kitab Tarikhul Ka'bah al Mu'azhamah, Syaikh Husain Abdullah Basalamah menjelaskan,  Nabi Ibrahim as membuat dua pintu untuk Ka'bah dengan ukuran yang sama. Satu dari arah timur dekat Hajar Aswad, dan yang lainnya dari arah barat dekat rukun Yamani. Beliau juga membuat lubang di dalam Ka'bah. Yaitu di sebelah kanan orang yang masuk dari pintu timur yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan harta Ka'bah. Kala itu, Ka'bah belum diberi atap.(Makalah al Ka'bah al Musyarafah Awalul-Bait Wadhi'a lin-Nas, Majalah Haji, Edisi 9 dan 10 Tahun 55 Rabiul Awal dan Rabi'u Tsani 1422H, halaman 35.)

Setelah pembangunan Ka'bah diselesaikan oleh  Nabi Ibrahim as dia berdo'a kepada Allah SWT agar karyanya itu diterima oleh Allah SWT sebagaimana yang difirmankan dalam surah Al-Baqarah 127 ..... "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".

Generasi Kelima : Selanjutnya dilanjutkan oleh suku Amaliqah yang berasal dari Yaman, hampir tidak ada perombakan pada bangunan Ka'bah, karena suku Amaliqah ini hanya memperbaiki yang runtuh dan rusak saja. Sebab itu para ahli sejarah ada yang mengatakan bukan termasuk membangun, akan tetapi pendapat yang lebih meyakinkan,  suku Amaliqah termasuk generasi kelima pembangunan Ka'bah.

Generasi Keenam : Adalah suku Jurhum yang dipimpin oleh raja mereka yang bernama Madhad bin Umar bin Haris bin Madhad bin Umar Al Jurhum. Mereka memperbaiki bangunan yang roboh yang pernah diperbaiki oleh  suku Amaliqah .Imam as Suhailiy berkata,"Dikisahkan, pada zaman  suku Jurhum, Ka’bah dibangun sekali atau dua kali karena banjir yang telah menghancurkan tembok Ka’bah. (Tetapi) ini bukan termasuk melakukan pembangunan, namun hanyalah perbaikan terhadap sesuatu yang diperlukan”.(Raudhul-Unfi, 1/222.)

Generasi Ketujuh : Selanjutnya adalah generasi Qushai bin Kilab dari Bani Kinanah. Beliau adalah seorang raja yang ditaati oleh rakyatnya, As Sakhawi mengatakan,  Qushai bin Kilab  mengumpulkan hartanya yang melimpah dan menghancurkan Ka'bah serta menambah tinggi Ka'bah menjadi 9 hasta dari yang telah dibangun pada zaman Nabi Ibrahim as. Dia juga membuat atap Ka'bah dari kayu pohon ad-dum dan pelepah kurma, sehingga dialah orang pertama yang membuat atap Ka'bah, kemudian dibuka lagi hingga zaman Quraisy. (Dinukil dari makalah al Ka'bah al Musyarafah Awalul-Bait Wadhi'a lin-Nas, Majalah Haji, Edisi 9 dan 10 Tahun 55 Rabiul Awal dan Rabi'u Tsani 1422H, halaman 35 dan 36.)

Generasi Kedelapan : adalah Abdul Muthalib kakek Nabi Muhammad Saw.

Generasi Kesembilan : adalah Suku Quraisy. Pada usia Rasulullah saw mencapai tiga puluh lima tahun, lima tahun sebelum tahun kenabian, Makkah dilanda banjir besar sehingga meluap ke Masjidil Haram dan dikhawatirkan sewaktu-waktu akan dapat meruntuhkan Ka’bah. Orang-orang suku Quraisy merasa bimbang antara merenovasi atau membiarkannya seperti apa adanya.

Akhirnya al Walid bin al Mughirah al Makhzumiy mengawali perobohan bangunan Ka’bah lalu diikuti oleh orang-orang setelah mereka mengetahui tidak terjadi sesuatupun menimpa al Walid. Mereka terus bekerja merobohkan setiap bangunan Ka’bah hingga sampai rukun Ibrahim. Setelah itu mereka siap membangunnya kembali.

Tatkala pembangunan sampai di bagian Hajar Aswad, mereka saling berselisih tentang siapa yang berhak mendapat kehormatan meletakkan Hajar Aswad itu ditempatnya semula. Perselisihan ini terus berlangsung selama empat atau lima hari, tanpa ada keputusan. Bahkan perselisihan itu semakin meruncing dan hampir saja menjurus kepada pertumpahan darah di tanah suci.

Abu Umayyah bin al Mughirah al Makhzumiy datang dan menawarkan solusi dengan menyerahkan urusan ini kepada siapa pun yang pertama kali masuk lewat pintu masjid. Mereka menerima cara ini. Allah SWT menghendaki orang yang berhak atasnya adalah Rasulullah saw. Tatkala mengetahui hal itu, mereka berbisik-bisik, ”Inilah al Amin. Kami ridho kepadanya, inilah dia Muhammad.”

Orang-orang suku Qiraisy kehabisan dana dari penghasilan mereka, maka mereka menyisakan di bagian utara, kira-kira enam hasta, yang kemudian disebut al Hijr atau al Hathim. Mereka membuat pintunya lebih tinggi dari permukaan tanah, agar tidak bisa dimasuki kecuali oleh orang yang memang ingin melewatinya. Setelah bangunan Ka’bah mencapai ketinggian lima belas hasta, mereka memasang atap dengan disangga enam sendi.

Setelah jadi, Ka’bah itu berbentuk segi empat, yang keinggiannya kira-kira mencapai lima belas hasta, panjang sisinya di tempat Hajar Aswad dan sebaliknya adalah sepuluh meter. Hajar Aswad itu sendiri diletakkan dengan ketinggian satu setengah meter dari permukaan pelataran untuk thawaf. Sisi yang ada pintunya dan sebaliknya setinggi dua belas meter. Adapun pintunya setinggi dua meter dari permukaan tanah, di sekeliling luar Ka’bah ada pagar dari bagian bawah ruas-ruas bangunan, di bagian tengahnya dengan ketinggian seperempat meter dan lebarnya kira-kira sepertiga meter. Pagar ini dinamakan Asy Syadzarawan. Namun kemudian orang-orang suku Quraisy meninggalkannya. (Ar Rakhiqul Makhtum hal 84 – 85)

Keistimewaan Bangunan Quraisy :
  • Suku Quraisy membangun Ka'bah sesuai dengan pondasi bangunan Nabi Ibrahim as.
  • Suku Quraisy  mengurangi lebar Ka'bah 6,5 (enam setengah) hasta dari arah Hijr Ismail, sebagaimana sekarang.
  • Menambah ketinggian Ka'bah menjadi 18 hasta.
  • Ka'bah dari sisi Hijr Ismail dijadikannya melingkar, sebagaimana pada pembangunan oleh Nabi Ibrahim as.
  • Suku Quraisy  membangun tembok pendek pada Hijr Ismail.
  • Meninggikan letak pintu dari tanah dan memberikan daun pintu yang dapat dikunci.
  • Menambah atap dan talang air (mizab) untuk mengatur pembuangan air dari atapnya dan dibuang ke arah Hijr Isma'il.
  • Memasang enam tiang penyangga dalam dua barisan di dalam Ka'bah.
  • Bahan yang dipakai untuk membangun tidak hanya susunan batuan saja, tetapi juga dengan menggunakan tanah sebagai perekat.
  • Menghiasi atap dan tembok Ka'bah sebelah dalam, demikian pula dengan tiang-tiangnya. Mereka juga membuat gambar-gambar para nabi, malaikat dan pepohonan. Yang semua ini kemudian dihapus oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada saat Fathu Makkah (Dinukil dari At Tarikhul-Qawim li Makkata wa Baitullah al Karim, 3/40)

Generasi Kesepuluh : Selanjutnya cucu dari Khalifah Abu Bakar Sidik yang bernama Abdullah bin Zubair, putra Asma binti Abu Bakar ra. Abdullah bin Zubair mempertinggi bangunan Ka'bah dari 9 hasta menjadi 27 hasta dan juga meninggikan pintu Ka'bah dan memberi atap Ka'bah dengan rapi.

Abdullah bin Zubair memutuskan perenovasian Ka’bah seperti yang diinginkan Rasulullah saw ketika beliau masih hidup. Dia pun merobohkannya dan membangun kembali serta menambahkan bagian yang masih kurang ketika orang-orang suku Quraisy kehabisan dana dari enam hasta menjadi sepuluh hasta. Dia juga menjadikan Ka’bah memiliki dua pintu, satu di sebelah timur dan lainnya di sebelah barat sehigga orang yang memasukinya dari satu pintu dan keluar di pintu yang lainnya. Dia menjadikannya dalam bentuk yang paling baik dan megah sehingga seperti yang disifatkan Nabi saw sebagaimana diberitakan oleh Aisyah ra ibu orang-orang beriman yang juga bibinya.

"Wahai, 'Aisyah. Kalau bukan karena kaummu baru lepas dari kejahiliyahan, sungguh aku ingin memerintahkan mereka menghancurkan Ka'bah lalu membangunnya, dan aku masukkan ke dalamnya apa yang telah dikeluarkan darinya, dan aku buat pintunya menempel dengan tanah, serta aku buatkan pintu timur dan barat, dan aku sesuaikan dengan pondasi Ibrahim". (Muttafaqun 'alaih, As Sirah an-Nabawiyah fi Dhu'il-Mashadir, halaman 55.)

Al Azraqiy (Tarikh Makkah 1/64) dan Ibnu Hajar (Fat-hul Bari, …) menjelaskan, bahwa Nabi Ibrahim as membangun Ka’bah setinggi 9 hasta, panjang 32 hasta dan lebar 22 hasta tanpa atap. Sedangkan as Suhailiy menjelaskan, bahwa tinggi Ka’bah adalah 9 hasta dari zaman Nabi Ismail as, lalu ketika kaum Quraisy sebelum Islam menambah 9 hasta, sehingga menjadi 18 hasta. Mereka meninggikan pintunya dari tanah, sehingga untuk menaikinya harus menggunakan tangga. Ketika  Abdullah bin Zubair  membangunnya, dia menambah 9 hasta, sehingga menjadi 27 hasta hingga sekarang. (Raudhul-Unfi, 1/221). Demikian juga I Abdullah bin Zubair membuat dua pintu yang menempel ke tanah dari arah timur dan barat, untuk masuk dan keluar. Tinggi pintunya 11 hasta.[23]

Generasi Kesebelas : Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan al Umawiy yaitu pada tahun 74 H, Al Hajaj bin Yusuf ats Tsaqafiy menulis surat kepadanya atas apa yang diperbuat  Abdullah bin Zubair  dengan Ka’bah, tentang perenovasian dan penambahan bagian Ka’bah, Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim (2/972/H 1333/402), pembangunan ini dilakukan karena adanya keraguan Abdul Malik terhadap pendengaran Abdullah bin Zubair, berkaitan hadits Rasulullah saw dari 'Aisyah :

"Kalau bukan karena kaummu baru lepas dari kejahiliyahan atau, kekufuran sungguh aku akan menghancurkan Ka'bah, membuatkan untuknya pintu dan aku tempelkan pintunya ke tanah, serta aku masukkan Hijr Ismail padanya".

Lalu  Abdul Malik bin Marwan al Umawiy membalas suratnya agar mengembalikan Ka’bah seperti sedia kala.  Al Hajaj bin Yusuf ats Tsaqafiy pun merobohkan bagian utaranya dan mengeluarkan al Hijr sebagaimana yang telah dibangun orang-orang suku Quraisy serta menjadikan Ka’bah memiliki satu pintu saja yang lebih ditinggikan serta menutup pintu yang lainnya.

Akan tetapi, kemudian Al Harits bin 'Abdullah bin Abi Rabi’ah menguatkan dan membenarkan pendengaran Abdullah bin Zubair di hadapan Abdul Malik bin Marwan al Umawiy, sehingga menyebabkan  Abdul Malik bin Marwan al Umawiy menyesal telah menghancurkan Ka’bah yang telah dibangun kembali oleh Abdullah bin Zubair

Juga diriwayatkan bahwa, Khalifah Harun ar Rasyid telah berencana untuk menghancurkan Ka’bah dan membangunnya kembali sebagaimana bangunan Abdullah bin Zubair, akan tetapi Imam Malik bin Anas berkata kepadanya: “Aku bersumpah, demi Allah, wahai Amirul Mukminin, janganlah engkau menjadikan Ka’bah ini sebagai permainan para raja setelah engkau, sehingga tidaklah seseorang dari mereka yang ingin merubahnya, kecuali dia pun akan merubahnya, dan kemudian hilanglah kewibawaan Ka'bah dari hati kaum Muslimin,” lalu Khalifah Harun ar Rasyid pun menggagalkan rencana tersebut, sehingga Ka’bah masih tetap seperti itu sampai sekarang ini. (As Sirah an-Nabawiyah fi Dhu'il-Mashadir, halaman 53.)

Generasi Keduabelas : Disempurnakan oleh Sultan Murad Khan IVSyaikh Muhammad Thahir al Kurdi mengatakan, yang memotivasi pembangunan oleh  Sultan Murad Khan IV, yaitu adanya hujan deras yang turun pada pagi hari Rabu, 19 Sya'ban 1039 H di Makkah dan sekitarnya, yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga menyebabkan air masuk ke dalam Masjid al Haram hingga ketinggian 2 meter dari pegangan pintu Ka'bah. Kemudian, pada 'Ashar keesokan harinya, yaitu hari Kamis, dua sisi tembok bagian asy Syami (sebelah utara) Ka'bah runtuh, dan tertarik juga tembok timur sampai pintu Al Syaami dan tidak sisa kecuali itu dan tiang pintunya. Dari tembok barat tersisa seperenamnya. Dari sisi yang tampak ini, hanya sekitar dua per tiganya saja, serta sebagian atap yang sejajar dengan tembok asy Syami (utara) ikut roboh.

Syaikh Abdullah Al Ghazi Al Hindi Al Makki rahimahullah, seorang pakar sejarah, dia mengatakan dalam kitab tarikhnya, bahwa yang roboh dari sisi asy syami (utara) adalah yang dibangun oleh Al Hajaj bin Yusuf ats Tsaqafiy. Demikian juga, tangga ke atap Ka'bah ikut runtuh. Pernyataan ini sesuai benar dengan kenyataannya. Maka setelah mengadakan musyawarah dengan para ulama Makkah,  Sultan Murad Khan IV memerintahkan pembangunan Ka'bah dan dapat diselesaikan pada bulan Ramadhan 1040 H, sesuai dengan bentuk bangunan  Al Hajaj bin Yusuf ats Tsaqafiy. Pembangunan  Sultan Murad Khan IV  inilah yang terakhir, hingga sekarang ini. (At Tarikhul-Qawim li Makkata wa Baitullah al Karim, 3/126-127.)

Demikian sejarah pembangunan Ka'bah yang disampaikan para ahli sejarah Islam. ka’bah hingga hari ini yang tetap kokoh dan menggetarkan setiap orang yang melihatnya. Mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan dan pengagungan kita terhadap Baitullah, al Haram dan kiblat kaum Muslimin yang agung ini. Wallahu'alam bissawab. Sumber : www.waspada.co.id, www.almanhaj.or.id,


PT ARMINAREKA PERDANA SURABAYA
Penyelenggara Perjalanan Umroh & Haji Plus sejak 1990
Izin Umroh D/146 th 2012 & Izin Haji Plus D/230 th 2012
Kantor Perwakilan Surabaya - Jawa Timur
Divisi Marketing Lima Utama Sukses
Konsorsium Juanda Surabaya
Jl. Semolowaru Elok AL 2
031-7111 3345
www.arminarekajatim.blogspot.com

KANTOR PUSAT PT ARMINAREKA PERDANA
Gedung Menara Salemba Lt.V
Jl.Salemba Raya No.05 Jakarta Pusat 10440
Telp: 021.3984 2982, 3984 2964 
Fax : 021.3984 2985
www.arminarekaperdana.com     

Kisah Royan Bersaudara dan Warisan Terindah Berhaji dari Bapak

Mata Royan Novi Amar (28) menerawang mengenang petuah ayahanda, H Djabir, yang ingin memberangkatkan putra putrinya ke Tanah Suci. Impian mendiang sang ayah kini menjadi nyata.

Royan bersama dua adiknya, Dwi Agustina Royani (26) serta Fajar Royan Santoso (23) akan meninggalkan Tanah Air menuju Arab Saudi pada Selasa 17 September 2013. Ketiganya berasal dari Kebumen, Jawa Tengah, dan tergabung dalam embarkasi Solo (S0C) kelompok terbang 20. Adik Royan, Fajar, bahkan menjadi calon jamaah haji termuda dari kloter 20 embarkasi Solo.

"Orang biasanya mendapat warisan tanah, harta benda, tetapi Bapak memberikan kami jalan untuk kebaikan. Bapak sebelum meninggal dunia tahun 2010, ingin kami menjadi tamu Allah SWT. Ini warisan spesial dari Bapak, Insya Allah," ungkap ayah 1 anak ini di Asrama Haji Donohudan Solo Jawa Tengah, Senin (16/9/2013).

Royan bercerita orang tuanya memberikan 'modal' untuk mendaftarkan mereka berhaji. Modal itu diperoleh sang ayah dari hasil jerih payah selama menjadi Ketua Kloter Haji pada tahun 2008.

"Itu upah dari Kementerian Agama. Kami daftar berhaji Januari 2010 dalam bentuk tabungan haji. Masing-masing diberi Rp 5 juta dan Desember 2010 Bapak tiada. Beliau tidak bisa melihat kebahagiaan ini," ujar Royan dengan suara tercekat menahan haru.
Selanjutnya, kata Royan, orang tuanya lah yang mencicil biaya haji yang masing-masing sekitar Rp 35 juta kurang itu "Kami ingin sebagian amal kita buat Bapak Ibu. Semoga kami menjadi lebih baik lagi," harap Royan.

Seperti jamaah haji lainnya, Royan bersaudara juga ingin beribadah dan memanjatkan doa kepada Sang Khalik. "Saya berharap menjadi haji mabrur dan doa saya dikabulkan sehingga bisa menjadi jalan terbaik Bapak," kata Royan.

Sang adik, Fajar Royan Santoso, juga punya harapan yang sama. "Saya juga ingin skripsi selesai," kata mahasiswa Universitas Diponegoro jurusan psikologi industri ini sambil tersenyum ramah. Demikian pula dengan Dwi Agustina Royani yang berharap sang Bunda Umisri diberi kesehatan dan kebahagiaan. Sumber: www.news.detik.com, Senin, 16  September 2013


PT ARMINAREKA PERDANA SURABAYA
Penyelenggara Perjalanan Umroh & Haji Plus sejak 1990
Izin Umroh D/146 th 2012 & Izin Haji Plus D/230 th 2012
Kantor Perwakilan Surabaya - Jawa Timur
Divisi Marketing Lima Utama Sukses
Konsorsium Juanda Surabaya
Jl. Semolowaru Elok AL 2
031-7111 3345
www.arminarekajatim.blogspot.com

KANTOR PUSAT PT ARMINAREKA PERDANA
Gedung Menara Salemba Lt.V
Jl.Salemba Raya No.05 Jakarta Pusat 10440
Telp: 021.3984 2982, 3984 2964 
Fax : 021.3984 2985
www.arminarekaperdana.com   

Hasnah Febrina Siregar Calon Jamaah Haji Termuda Medan


Papa Udah Meninggal, Sebelum Sempat Pergi Haji Bersama. Keinginan memenuhi panggilan Allah SWT, untuk menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci Makkah bersama ayah dan ibu, hanya mimpi dan tak mungkin terwujud lagi. Hasnah Febrina Siregar (18), calon haji (Calhaj) termuda Kloter Pertama Embarkasi Medan kini hanya bisa berangkat haji bersama sang ibu, karena ayahnya telah meninggal dunia, sebelum impian yang telah dirajut sejak kelas II SMP itu terwjud.

Dari sela-sela padatnya barisan ratusan calon jamaah haji lain yang berusia jauh diatasnya, gadis bungsu tiga bersaudara itu berhasil ditemui MedanBisnis beberapa waktu lalu saat mengikuti proses pendataan prosedur keberangkatan jamaah haji sehari sebelum keberangkatan menuju tanah suci.

Kepada MedanBisnis Hasnah Febrina Siregar (18) warga Jalan Melati Raya I No. 5 Kecamatan Medan Selayang itu, menceritakan bahwa, niat untuk menunaikan ibadah haji tersebut muncul ketika mengetahui rencana kedua orangtuanya pergi ke tanah suci untuk menjalankan ibadah haji sejak 2009 lalu.

Karena menderita sakit yang cukup serius ayah Hasnah yang telah merencanakan keberangkatan haji melalui KBIH akhirnya meninggal dunia beberapa waktu lalu, sebelum mewujudkan impian mereka bersama melaksanakan ibadah haji ke tanah suci.

"Awalnya dulu rencananya pergi hajinya mau sama papa, sama mama, udah diurus waktu masih kelas 2 SMP pas tahun 2009 bang, tapi sekarang perginya berdua sama mama aja karena papa udah meninggal belum sempat pergi haji sama-sama," ungkapnya tegar.

Walau akhirnya kenyataan yang dialaminya tak sesuai dengan impian semasa SMP, namun kondisi tersebut tak membuat gadis manis yang kini tercatat sebagai siswi SMA Negeri 4 Medan tersebut kehilangan impiannya tentang masa depan, yang tak sabar akan disampaikannya melalui do'a di depan Ka'bah.

Kini hanya ada satu impian yang tersimpan dalam hatinya, bersujud menyentuh dinding Ka'bah mendo'akan orang-orang yang disayanginya dan berharap kepada Sang Pencipta agar kelak diberi kemudahan jalan mewujudkan semua cita-citanya di masa depan.

"Pingin berdo'a di Ka'bah bang, do'ain semua orang yang disayangi, berdo'a supaya sekolahnya lancar, masuk Universitas Negeri Bidang Akutansi, berdo'a supaya dimudahkan ngejar cita-citanya," harapnya. Sumber: www.medanbisnisdaily, Rabu, 11 September 2013


PT ARMINAREKA PERDANA SURABAYA
Penyelenggara Perjalanan Umroh & Haji Plus sejak 1990
Izin Umroh D/146 th 2012 & Izin Haji Plus D/230 th 2012
Kantor Perwakilan Surabaya - Jawa Timur
Divisi Marketing Lima Utama Sukses
Konsorsium Juanda Surabaya
Jl. Semolowaru Elok AL 2
031-7111 3345
www.arminarekajatim.blogspot.com

KANTOR PUSAT PT ARMINAREKA PERDANA
Gedung Menara Salemba Lt.V
Jl.Salemba Raya No.05 Jakarta Pusat 10440
Telp: 021.3984 2982, 3984 2964 
Fax : 021.3984 2985
www.arminarekaperdana.com    

Menabung Sejak TK, Dea Putri Audina Calon Jamaah Haji Termuda Sumedang


Usianya baru delapan belas tahun. Tak heran jika mahasiswi kedokteran Universitas Islam Bandung itu tercatat sebagai calon haji paling muda dari Sumedang. Dialah Dea Putri Audina. Ternyata keinginan untuk berangkat naik haji sudah tercetus sejak ia berusia lima tahun, saat baru di taman-kanak-kanak. Niat naik haji itu terlaksana pada tahun 2013 ini.

"Saat saya ikut manasik haji di TK, tebersit keinginan naik haji dan keinginan itu saya sampaikan kepada orang tua," kata putri semata wayang Dicky Rubiana dan dr Anna Darmiana usai kegiatan pelepasan calon jemaah haji Sumedang di pendopo Induk Pusat Pemerintahan (IPP), Senin (16/9).

Dea mengaku tidak tahu secara pasti mengapa ingin naik haji. "Saat itu masih kecil dan ingin naik haji beneran saja, kemudian diutarakan ke orang tua setelah ikut manasik," kata Dea. Mendengar keinginan itu, kedua orang tua Dea, yang saat itu menjadi camat Jatinunggal dan dokter umum di puskesmas, kaget dan terharu. "Saya kemudian ajak dia membuka tabungan untuk naik haji itu dan meminta dia menyisihkan uang jajannya," kata dr Anna, ibunya.

Uang jajan itu ditabung dan akhirnya bisa terkumpul. "Kami mendapat rezeki dan tahun 2009 mengajak Dea untuk umrah, tapi dia menolak dan ingin langsung naik haji," kata Dicky Rubiana, ayah Dea, yang kini Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja (Dinsosnaker).

Saat diajak untuk umrah itu, Dea meminta waktu satu hari untuk memberikan jawaban. Esok harinya, ternyata Dea menolak ajakan orang tuanya untuk umrah. "Saat itu saya katakan ingin langsung naik haji dan kekurangan uang tabungan untuk naik haji itu ditambah saja dari biaya untuk umrah," kata gadis berkacamata ini.

Mendengar penolakan umrah dan ingin langsung naik haji itu, kedua orangnya terkejut dan terharu. Oleh orang tuanya, Dea didaftarkan untuk naik haji dan pada tahun 2012 sempat akan dilakukan pelunasan biaya perjalanan ibadah haji (BPIH)."Namun saat datang ke Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Sumedang itu belum bisa dilakukan pelunasan karena usianya masih kurang dari 18 tahun," kata Anna.

Keinginan untuk naik haji itu akhirnya dipendam karena saat pelunasan itu harus 18 tahun nol bulan. Kabar gembira datang dari Kemenag mengabarkan bahwa Dea bisa melakukan pelunasan pada tahun 2013 karena usianya sudah 18 tahun.

Gadis kelahiran 3 Maret 1995 itu langsung melunasi BPIH ke bank dan akhirnya masuk rombongan calon jemaah haji asal Sumedang yang berjumlah 640 orang. "Pelunasan BPIH bagi calon haji itu dilakukan sekitar Juli lalu dan dia termasuk calon haji paling muda," kata Hasan Bisri, Humas Kantor Kemenag Sumedang, kemarin.

Setelah dipotong kuota 20 persen secara nasional kuota jemaah haji Sumedang tahun ini menjadi 640 orang dan berangkat dalam dua kelompok terbang. Gelombang pertama berangkat Rabu (18/9) pagi sebanyak 444 orang dan gelombang kedua 196 orang berangkat Selasa (1/10). Dea berangkat naik haji ditemani oleh orang tuanya, Dicky dan dr Anna Darmiana. "Kami sudah naik haji dan sekarang berangkat lagi untuk menemani anak kami," kata Dicky. Sumber: www.jabar.tribunnews, Selasa, 17 September 2013


PT ARMINAREKA PERDANA SURABAYA
Penyelenggara Perjalanan Umroh & Haji Plus sejak 1990
Izin Umroh D/146 th 2012 & Izin Haji Plus D/230 th 2012
Kantor Perwakilan Surabaya - Jawa Timur
Divisi Marketing Lima Utama Sukses
Konsorsium Juanda Surabaya
Jl. Semolowaru Elok AL 2
031-7111 3345
www.arminarekajatim.blogspot.com

KANTOR PUSAT PT ARMINAREKA PERDANA
Gedung Menara Salemba Lt.V
Jl.Salemba Raya No.05 Jakarta Pusat 10440
Telp: 021.3984 2982, 3984 2964 
Fax : 021.3984 2985
www.arminarekaperdana.com    

Lidia Fitri Fakhruddin Calon Jamaah Haji Termuda Bireuen


Beritalima, Selasa, 03 September 2013 - Lidia Fitri Fakhruddin (24) warga Kecamatan Kuta Blang adalah calon jamaah haji ( calhaj ) termuda dan Tgk Muhammad Ali Birga (76 ) dari Meunasah Teungku Di Gadong Kecamatan Kota Juang merupakan calhaj tertua dari 257 Calhaj asal Kabupaten Bireuen yang berangkat 29 September 2013.

Menurut petugas Haji dari Puskesmas Gandapura Ibu Susilawati didampingi PJ Kemenang Bireuen Tgk Jamaluddin Idris kepada BeritaLima kemarin menyebutkan, tahun ini Calhaj Kabupaten Bireuen yang meliputi 17 Kecamatan

Dijelaskan, Lidia Fitri Fachruddin dari kecamatan Kuta Blang itu berangkat ke Tanah Susi Makkah bersama Kakak dan ayahandanya yang sudah mendaftar sebagai calon jamaah haji beberapa tahun yang lalu.

Sementara Lidia Fitri didampingi Susilawati, Kakaknya serta orangtuanya di sela-sela pelaksanaan bimbingan Manasik Haji menyangkut rukun dan wajib haji di Masjid Agung Bireuen mengakui selama ini ia sudah belajar bersama keluarganya menyangkut masalah rukun dan wajib haji.

"Saya selalu berdoa kepada Allah SWT agar setibanya disana sehat dan mampu melaksanakan rukun,wajib dan sunnah haji serta ibadah lainnya dengan tujuan memperoleh haji mabrur." Ungkap Lidia Fitri yang diamini ayahnya Fachruddin.

Dalam keterangannya kepada BeritaLima, ia memang sudah bercita-cita mau melaksanakan rukun Islam kelima itu sejak masih bersekolah di Madrasah dan ketika ia melihat Ka'bah ia selalu terpikir kapan ia bisa kesana.

"Alhamdulillah cita-cita saya mau melaksanakan rukun Islam ke-5 terpenuhi setelah ia bersama keluarga mendaftarkan diri beberapa tahun yang lalu." Ungkapnya.

Sementara Tgk Muhammad Ali Birga menyebutkan, Alhamdulillah saya sudah ada kemampuan untuk berangkat ke tanah suci untuk beribadah sekaligus melaksanakan kewajiban rukun Islam kelima karena sudah dianugerahi kemampuan dana oleh Allah SWT.


PT ARMINAREKA PERDANA SURABAYA
Penyelenggara Perjalanan Umroh & Haji Plus sejak 1990
Izin Umroh D/146 th 2012 & Izin Haji Plus D/230 th 2012
Kantor Perwakilan Surabaya - Jawa Timur
Divisi Marketing Lima Utama Sukses
Konsorsium Juanda Surabaya
Jl. Semolowaru Elok AL 2
031-7111 3345
www.arminarekajatim.blogspot.com

KANTOR PUSAT PT ARMINAREKA PERDANA
Gedung Menara Salemba Lt.V
Jl.Salemba Raya No.05 Jakarta Pusat 10440
Telp: 021.3984 2982, 3984 2964 
Fax : 021.3984 2985
www.arminarekaperdana.com    

Stroke & Lumpuh Tak Menghentikan Abdul Khoir Berangkat Haji


Okezone, Kamis, 03 Oktober 2013 -  Seorang warga Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah, optimistis berangkat haji meski menderita stroke dan kedua kaki lumpuh. Selain menjalankan ibadah haji, dia juga akan berziarah ke makam ayahnya yang meninggal di Tanah Suci.

Abdul Khoir, calon haji warga Desa Tlogorejo, Kecamatan Tegowanu, harus menggunakan kursi roda untuk dapat berangkat ke Makkah. Pria yang bekerja sebagai petani itu telah mengumpulkan uang selama bertahun-tahun agar dapat berangkat haji.

Dia dan istrinya, Rusiyem, mendaftar haji pada 2009. Namun, pada 2010 dia mengalami stroke hingga kedua kakinya lumpuh. Kendati demikian, keterbatasan fisik itu tidak menghalangi niatnya untuk menunaikan ibadah rukum Islam kelima itu.

“Selama mengalami kelumpuhan, dia rutin mengikuti manasik haji dengan menggunakan kursi roda,” kata Rusiyem, Kamis (3/10/2013).

Dia mengaku bahagia bisa berkumpul dengan jamaah calon haji yang lain di Pendapa Kabupaten Grobogan. Sejumlah anggota keluarganya mengiringi dan mendorong kursi rodanya menuju tempat duduk yang disediakan bagi jamaah.

Jika tiba di Tanah Suci, Abdul bersama istrinya akan memohon kesembuhan dan dapat menjalankan ibadah dengan lancar. Mereka juga akan menengok dan berziarah di makam ayah Abdul yang meninggal di Makkah saat menunaikan ibadah haji tahun lalu.

Tahun ini, Kementrian Agama Kabupaten Grobogan memberangkatkan 813 calon haji ke Tanah Suci.


PT ARMINAREKA PERDANA SURABAYA
Penyelenggara Perjalanan Umroh & Haji Plus sejak 1990
Izin Umroh D/146 th 2012 & Izin Haji Plus D/230 th 2012
Kantor Perwakilan Surabaya - Jawa Timur
Divisi Marketing Lima Utama Sukses
Konsorsium Juanda Surabaya
Jl. Semolowaru Elok AL 2
031-7111 3345
www.arminarekajatim.blogspot.com

KANTOR PUSAT PT ARMINAREKA PERDANA
Gedung Menara Salemba Lt.V
Jl.Salemba Raya No.05 Jakarta Pusat 10440
Telp: 021.3984 2982, 3984 2964 
Fax : 021.3984 2985
www.arminarekaperdana.com  

Kisah Mbah Slamet yang Selamat Nyasar Hingga Jeddah Tertipu Sopir Taksi


Okezone, Rabu, 02 Oktober 2013 - Jamaah Indonesia dintuntut untuk selalu waspada saat menjalankan ibadah. Jika tidak hati-hati, seperti yang dialami oleh Mbah Slamet yang tersesat hingga Jeddah. Mbah Slamet merupakn warga Labuhan Batu, Sumatera Utara. Dia terdaftar sebagai anggota kloter 15 embarkasi Medan (MES/15) yang baru tiba di Makkah pada Sabtu 28 September 2013 pukul 23.30 WAS.

Pada Minggu 29 September 2013, Mbah Slamet bersama rombongannya pergi ke Masjidil Haram untuk melaksanakan ibadah umrah. Sesampai di Masjidil Haram sekira pukul 07.30 WAS, Mbah Slamet pun melaksanakan ibadah tawaf. “Setelah berputar lima kali, saya kok kehilangan teman-teman, semuanya tidak ada. Saya memutuskan untuk meneruskan tawafnya,” kisah Mbah Slamet penuh semangat kepada petugas Media Centre Haji.

“Putaran ke enam, saya juga tidak melihat rombongan. Putaran ketujuh juga tidak saya temukan,” tutur Mbah Slamet yang akhirnya memutuskan untuk memutari Kakbah sekali lagi untuk mencari rombongan. Usaha Mbah Slamet ternyata tidak membuahkan hasil. Dia pun memutuskan untuk keluar dari arena Kakbah untuk keluar Masjidil Haram. Akibat pencarian tersebut, Mbah Slamet tidak melaksanakan Sai.

“Sekira pukul 12 siang (Waktu Arab Saudi), saya turun ke terowongan,” tutur Mbah Slamet. Diduga, terowongan yang dimaksud adalah Bab Bilal, tempat pemberhentian bus dan taksi. “Taksi, saya mau ke asrama haji,” kata Mbah Slamet. Pria kelahiran Banyumas itu memang terbilang mempunyai nyali tinggi, meski tidak di negeri sendiri. Dia bercerita kalau sopir taksi itu kemudian menawarinya ke Jeddah.

“Asrama haji itu di Jeddah? Berapa ongkosnya?” tanya Mbah Slamet yang membayangkan pemondokan tempat tidurnya semalam adalah asrama haji. Sopir taksi pun mengiyakan. Mbah Slamet kemudian meluncur ke Jeddah. Kepala Bidang Pengamanan Haji Jeddah, Kasmudi, mengatakan, Mbah Slamet diturunkan oleh sopir di Cornesy, salah satu supermarket di Jeddah. Setelah membayar ongkos taksi dan keluar mobil, Mba Slamet baru sadar jika dia tidak berada di daerah pemondokannya. Mbah Slamet merasa asing dengan daerah yang baru saja dijejakinya.

Berntung ada seorang muqimin Indonesia yang mendekatinya. Muqimin itu merasa aneh di Jeddah ada orang mengenakan pakaian ihram dan menduganya sebagai jamaah tersesat. Setelah menanyakan beberapa hal, Kasmudi tahu bahwa Mbah Slamet adalah jamaah haji Indonesia tersesat. Dia pun mengantarkan Mbah Slamet ke Kantor Urusan Haji Indonesia di Jeddah dan dipertemukan dengan Kasmudi.

Tepat pukul 15.00 WAS, Mbah Slamet diantar Kasmudi ke Sektor 2 Daerah Kerja Makkah. Kepada tim MCH Mbah Slamet berkisah tentang pengalaman yang baru saja di alaminya dengan penuh semangat, tanpa menunjukan rasa lelah, serta khawatir. “Tabah aku, tebal imanku,” kata Mbah Slamet penuh bangga, meski baru saja tersesat jalan.

“Bapakku kasih nama aku Slamet. Jadi biar diterkam Harimau pun, aku tetap Slamet,” tuturnya disambut tawa tim MCH. Mbah Slamet pun mengisahkan perihal dirinya bisa berhaji bersama anak dan menantunya. Sebagian uang dari hasil menjual 18 ekor sapi yang berjumlah Rp 120juta dan digunakannya untuk membayar Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH).

Kini, mimpi yang dirangkai sejak tahun 1970-an itu menjadi nyata, Mbah Slamet bertamu di Baitullah, menjadi Dluyufur-Rahman bersama jutaan jamaah lainnya. “Karena belum sempurna ibadah umrahnya, mohon agar disampaikan kepada pembimbingnya untuk mendampingi Mbah Slamet agar menyempurnakan ibadahnya,” pesan Kasmudi sembari mengembalikan Mbah Slamet kepada Kepala Sektor 2, Abdullah bin Abdurrahim. Oleh Abdullah, Mbah Slamet di antar ke pemondokannya dan dipertemukan dengan anak, menantu, dan sahabat yang sudah menunggunya

  Pendaftaran Online Haji Plus & Umroh

PT ARMINAREKA PERDANA SURABAYA
Penyelenggara Perjalanan Umroh & Haji Plus sejak 1990
Izin Umroh D/146 th 2012 & Izin Haji Plus D/230 th 2012
Kantor Perwakilan Surabaya - Jawa Timur
Divisi Marketing Lima Utama Sukses
Konsorsium Juanda Surabaya
Jl. Semolowaru Elok AL 2
031-7111 3345
www.arminarekajatim.blogspot.com

KANTOR PUSAT PT ARMINAREKA PERDANA
Gedung Menara Salemba Lt.V
Jl.Salemba Raya No.05 Jakarta Pusat 10440
Telp: 021.3984 2982, 3984 2964 
Fax : 021.3984 2985
www.arminarekaperdana.com