Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah Islam. Tampilkan semua postingan

Sejarah Pembangunan Ka'bah


Allah SWT berfirman "Dan ingatlah ketika Nabi Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar Baitullah bersama Ismail seraya berdo'a : Ya Tuhan kami terimalah daripada kami amalan kami, sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 127).

Sepintas bahwa ayat di atas mengatakan bahwa Nabi Ibrahim as adalah orang yang pertama membangun Ka'bah di permukaan bumi ini, seperti dipahami oleh sebagian kaum muslimin. Padahal bila dicermati, sebelum  Nabi Ibrahim as menginjakkan kakinya ke tanah Makkah sudah ada bangunan Ka'bah yang telah dibangun oleh malaikat dan generasi sebelum  Nabi Ibrahim as. Hal itu dapat dipahami dari kata "Yarfa'u" meninggikan berarti meninggikan bangunan yang suda ada. Para ahli sejarah mengatakan, setidaknya ada dua belas generasi yang ikut berjasa dalam membangun Ka'bah yang ada sampai saat sekarang ini yaitu :

Generasi Pertama: Ka'bah dibangun oleh Malaikat, dua ribu tahun sebelum Nabi Adam as diciptakan, Malaikat sudah membangun Ka'bah di bumi ini atas perintah Allah SWT. Anda bisa baca selengkapnya dalam artikel Siapakah yang Pertama Kali Tawaf di Baitullah? Penjelasan ini sekaligus sebagai bantahan pada orang-orang Nasrani bahwa rumah yang pertama dibangun adalah Baitul Maqdis. Itu generasi pertama pembangunan Ka'bah,

Generasi kedua : Pembangunan dilanjutkan oleh Nabi Adam as setelah dia keluar dari dalam surga, dan menetap di bumi melaksanakan tawaf, dan merenofasi bangunan Ka'bah serta memohon ampun kepada Allah SWT. Atas kekhilafan yang telah dilakukannya. Beliaulah manusia pertama merenofasi bangunan Ka'bah dan tawaf di Ka'bah (Ibnu Abbas Ibid: 37)

Generasi Ketiga : dilanjutkan oleh putra Nabi Adam as bernama Syis, setelah Nabi Adam as wafat. Bangunan ketika itu terdiri dari tanah dan batu, dan bangunan tersebut dapat bertahan sampai Nabi Nuh as. Ketika "Tsunami besar" terjadi pada masa Nabi Nuh as, Ka'bah roboh dan porak poranda. Sampai pada generasi ketiga ini menurut ahli sejarah, tidak dijumpai keterangan di dalam Al Quran dan hadits-hadits Shahih baru

Generasi Keempat : yaitu generasi Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as, dicantumkan sejarahnya di dalam Al Quran di antaranya ayat 127 surat Al Baqarah seperti di bawah judul di atas. Ayat di atas menceritakan Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as merenofasi Ka'bah dengan meninggikan pondasi yang tertimbun oleh banjir pada zaman Nabi Nuh as,

Setelah  Nabi Ibrahim as dan Nabi Ismail as meletakkan dasar-dasarnya maka dibangunlah rukun-rukunnya. Dan Nabi Ibrahim as mengatakan kepada Nabi Ismail as, ”Wahai anakku, carikanlah untukku batu hitam dari daerah India, dahulunya ia adalah batu yakut yang paling putih. Dahulu batu itu dibawa oleh Nabi Adam as tatkala diturunkan ke bumi dari surga namun kemudian berubah warnanya menjadi hitam karena dosa-dosa manusia. Nabi Ismail as pun membawa sebuah batu namun ia mendapatkan batu hitam itu sudah berada disalah satu sudut. Ia pun bertanya kepada ayahnya, ”Wahai ayahku siapa yang mendatangkan batu itu kepadamu? Nabi Ibrahim as  menjawab,”Dia adalah yang lebih rajin darimu.” Maka mereka berdua membangunnya,

Nabi Ibrahim as dengan dibantu oleh Nabi Ismail as, beliau memulai pembangunan Ka'bah dengan membuat tinggi Ka'bah menjadi 9 hasta, dan lebarnya 32 hasta dari rukun Aswad sampai rukun Syami, yang di sisinya terdapat Hijr Ismail. Beliau melebarkan antara rukun Syami dengan rukun Gharbi (Barat) menjadi 22 hasta, dan antara rukun Gharbi dengan rukun Yamani menjadi 31 hasta, serta antara rukun Yamani dengan rukun Aswad menjadi 20 hasta.

Penulis kitab Tarikhul Ka'bah al Mu'azhamah, Syaikh Husain Abdullah Basalamah menjelaskan,  Nabi Ibrahim as membuat dua pintu untuk Ka'bah dengan ukuran yang sama. Satu dari arah timur dekat Hajar Aswad, dan yang lainnya dari arah barat dekat rukun Yamani. Beliau juga membuat lubang di dalam Ka'bah. Yaitu di sebelah kanan orang yang masuk dari pintu timur yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan harta Ka'bah. Kala itu, Ka'bah belum diberi atap.(Makalah al Ka'bah al Musyarafah Awalul-Bait Wadhi'a lin-Nas, Majalah Haji, Edisi 9 dan 10 Tahun 55 Rabiul Awal dan Rabi'u Tsani 1422H, halaman 35.)

Setelah pembangunan Ka'bah diselesaikan oleh  Nabi Ibrahim as dia berdo'a kepada Allah SWT agar karyanya itu diterima oleh Allah SWT sebagaimana yang difirmankan dalam surah Al-Baqarah 127 ..... "Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui".

Generasi Kelima : Selanjutnya dilanjutkan oleh suku Amaliqah yang berasal dari Yaman, hampir tidak ada perombakan pada bangunan Ka'bah, karena suku Amaliqah ini hanya memperbaiki yang runtuh dan rusak saja. Sebab itu para ahli sejarah ada yang mengatakan bukan termasuk membangun, akan tetapi pendapat yang lebih meyakinkan,  suku Amaliqah termasuk generasi kelima pembangunan Ka'bah.

Generasi Keenam : Adalah suku Jurhum yang dipimpin oleh raja mereka yang bernama Madhad bin Umar bin Haris bin Madhad bin Umar Al Jurhum. Mereka memperbaiki bangunan yang roboh yang pernah diperbaiki oleh  suku Amaliqah .Imam as Suhailiy berkata,"Dikisahkan, pada zaman  suku Jurhum, Ka’bah dibangun sekali atau dua kali karena banjir yang telah menghancurkan tembok Ka’bah. (Tetapi) ini bukan termasuk melakukan pembangunan, namun hanyalah perbaikan terhadap sesuatu yang diperlukan”.(Raudhul-Unfi, 1/222.)

Generasi Ketujuh : Selanjutnya adalah generasi Qushai bin Kilab dari Bani Kinanah. Beliau adalah seorang raja yang ditaati oleh rakyatnya, As Sakhawi mengatakan,  Qushai bin Kilab  mengumpulkan hartanya yang melimpah dan menghancurkan Ka'bah serta menambah tinggi Ka'bah menjadi 9 hasta dari yang telah dibangun pada zaman Nabi Ibrahim as. Dia juga membuat atap Ka'bah dari kayu pohon ad-dum dan pelepah kurma, sehingga dialah orang pertama yang membuat atap Ka'bah, kemudian dibuka lagi hingga zaman Quraisy. (Dinukil dari makalah al Ka'bah al Musyarafah Awalul-Bait Wadhi'a lin-Nas, Majalah Haji, Edisi 9 dan 10 Tahun 55 Rabiul Awal dan Rabi'u Tsani 1422H, halaman 35 dan 36.)

Generasi Kedelapan : adalah Abdul Muthalib kakek Nabi Muhammad Saw.

Generasi Kesembilan : adalah Suku Quraisy. Pada usia Rasulullah saw mencapai tiga puluh lima tahun, lima tahun sebelum tahun kenabian, Makkah dilanda banjir besar sehingga meluap ke Masjidil Haram dan dikhawatirkan sewaktu-waktu akan dapat meruntuhkan Ka’bah. Orang-orang suku Quraisy merasa bimbang antara merenovasi atau membiarkannya seperti apa adanya.

Akhirnya al Walid bin al Mughirah al Makhzumiy mengawali perobohan bangunan Ka’bah lalu diikuti oleh orang-orang setelah mereka mengetahui tidak terjadi sesuatupun menimpa al Walid. Mereka terus bekerja merobohkan setiap bangunan Ka’bah hingga sampai rukun Ibrahim. Setelah itu mereka siap membangunnya kembali.

Tatkala pembangunan sampai di bagian Hajar Aswad, mereka saling berselisih tentang siapa yang berhak mendapat kehormatan meletakkan Hajar Aswad itu ditempatnya semula. Perselisihan ini terus berlangsung selama empat atau lima hari, tanpa ada keputusan. Bahkan perselisihan itu semakin meruncing dan hampir saja menjurus kepada pertumpahan darah di tanah suci.

Abu Umayyah bin al Mughirah al Makhzumiy datang dan menawarkan solusi dengan menyerahkan urusan ini kepada siapa pun yang pertama kali masuk lewat pintu masjid. Mereka menerima cara ini. Allah SWT menghendaki orang yang berhak atasnya adalah Rasulullah saw. Tatkala mengetahui hal itu, mereka berbisik-bisik, ”Inilah al Amin. Kami ridho kepadanya, inilah dia Muhammad.”

Orang-orang suku Qiraisy kehabisan dana dari penghasilan mereka, maka mereka menyisakan di bagian utara, kira-kira enam hasta, yang kemudian disebut al Hijr atau al Hathim. Mereka membuat pintunya lebih tinggi dari permukaan tanah, agar tidak bisa dimasuki kecuali oleh orang yang memang ingin melewatinya. Setelah bangunan Ka’bah mencapai ketinggian lima belas hasta, mereka memasang atap dengan disangga enam sendi.

Setelah jadi, Ka’bah itu berbentuk segi empat, yang keinggiannya kira-kira mencapai lima belas hasta, panjang sisinya di tempat Hajar Aswad dan sebaliknya adalah sepuluh meter. Hajar Aswad itu sendiri diletakkan dengan ketinggian satu setengah meter dari permukaan pelataran untuk thawaf. Sisi yang ada pintunya dan sebaliknya setinggi dua belas meter. Adapun pintunya setinggi dua meter dari permukaan tanah, di sekeliling luar Ka’bah ada pagar dari bagian bawah ruas-ruas bangunan, di bagian tengahnya dengan ketinggian seperempat meter dan lebarnya kira-kira sepertiga meter. Pagar ini dinamakan Asy Syadzarawan. Namun kemudian orang-orang suku Quraisy meninggalkannya. (Ar Rakhiqul Makhtum hal 84 – 85)

Keistimewaan Bangunan Quraisy :
  • Suku Quraisy membangun Ka'bah sesuai dengan pondasi bangunan Nabi Ibrahim as.
  • Suku Quraisy  mengurangi lebar Ka'bah 6,5 (enam setengah) hasta dari arah Hijr Ismail, sebagaimana sekarang.
  • Menambah ketinggian Ka'bah menjadi 18 hasta.
  • Ka'bah dari sisi Hijr Ismail dijadikannya melingkar, sebagaimana pada pembangunan oleh Nabi Ibrahim as.
  • Suku Quraisy  membangun tembok pendek pada Hijr Ismail.
  • Meninggikan letak pintu dari tanah dan memberikan daun pintu yang dapat dikunci.
  • Menambah atap dan talang air (mizab) untuk mengatur pembuangan air dari atapnya dan dibuang ke arah Hijr Isma'il.
  • Memasang enam tiang penyangga dalam dua barisan di dalam Ka'bah.
  • Bahan yang dipakai untuk membangun tidak hanya susunan batuan saja, tetapi juga dengan menggunakan tanah sebagai perekat.
  • Menghiasi atap dan tembok Ka'bah sebelah dalam, demikian pula dengan tiang-tiangnya. Mereka juga membuat gambar-gambar para nabi, malaikat dan pepohonan. Yang semua ini kemudian dihapus oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pada saat Fathu Makkah (Dinukil dari At Tarikhul-Qawim li Makkata wa Baitullah al Karim, 3/40)

Generasi Kesepuluh : Selanjutnya cucu dari Khalifah Abu Bakar Sidik yang bernama Abdullah bin Zubair, putra Asma binti Abu Bakar ra. Abdullah bin Zubair mempertinggi bangunan Ka'bah dari 9 hasta menjadi 27 hasta dan juga meninggikan pintu Ka'bah dan memberi atap Ka'bah dengan rapi.

Abdullah bin Zubair memutuskan perenovasian Ka’bah seperti yang diinginkan Rasulullah saw ketika beliau masih hidup. Dia pun merobohkannya dan membangun kembali serta menambahkan bagian yang masih kurang ketika orang-orang suku Quraisy kehabisan dana dari enam hasta menjadi sepuluh hasta. Dia juga menjadikan Ka’bah memiliki dua pintu, satu di sebelah timur dan lainnya di sebelah barat sehigga orang yang memasukinya dari satu pintu dan keluar di pintu yang lainnya. Dia menjadikannya dalam bentuk yang paling baik dan megah sehingga seperti yang disifatkan Nabi saw sebagaimana diberitakan oleh Aisyah ra ibu orang-orang beriman yang juga bibinya.

"Wahai, 'Aisyah. Kalau bukan karena kaummu baru lepas dari kejahiliyahan, sungguh aku ingin memerintahkan mereka menghancurkan Ka'bah lalu membangunnya, dan aku masukkan ke dalamnya apa yang telah dikeluarkan darinya, dan aku buat pintunya menempel dengan tanah, serta aku buatkan pintu timur dan barat, dan aku sesuaikan dengan pondasi Ibrahim". (Muttafaqun 'alaih, As Sirah an-Nabawiyah fi Dhu'il-Mashadir, halaman 55.)

Al Azraqiy (Tarikh Makkah 1/64) dan Ibnu Hajar (Fat-hul Bari, …) menjelaskan, bahwa Nabi Ibrahim as membangun Ka’bah setinggi 9 hasta, panjang 32 hasta dan lebar 22 hasta tanpa atap. Sedangkan as Suhailiy menjelaskan, bahwa tinggi Ka’bah adalah 9 hasta dari zaman Nabi Ismail as, lalu ketika kaum Quraisy sebelum Islam menambah 9 hasta, sehingga menjadi 18 hasta. Mereka meninggikan pintunya dari tanah, sehingga untuk menaikinya harus menggunakan tangga. Ketika  Abdullah bin Zubair  membangunnya, dia menambah 9 hasta, sehingga menjadi 27 hasta hingga sekarang. (Raudhul-Unfi, 1/221). Demikian juga I Abdullah bin Zubair membuat dua pintu yang menempel ke tanah dari arah timur dan barat, untuk masuk dan keluar. Tinggi pintunya 11 hasta.[23]

Generasi Kesebelas : Pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan al Umawiy yaitu pada tahun 74 H, Al Hajaj bin Yusuf ats Tsaqafiy menulis surat kepadanya atas apa yang diperbuat  Abdullah bin Zubair  dengan Ka’bah, tentang perenovasian dan penambahan bagian Ka’bah, Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim (2/972/H 1333/402), pembangunan ini dilakukan karena adanya keraguan Abdul Malik terhadap pendengaran Abdullah bin Zubair, berkaitan hadits Rasulullah saw dari 'Aisyah :

"Kalau bukan karena kaummu baru lepas dari kejahiliyahan atau, kekufuran sungguh aku akan menghancurkan Ka'bah, membuatkan untuknya pintu dan aku tempelkan pintunya ke tanah, serta aku masukkan Hijr Ismail padanya".

Lalu  Abdul Malik bin Marwan al Umawiy membalas suratnya agar mengembalikan Ka’bah seperti sedia kala.  Al Hajaj bin Yusuf ats Tsaqafiy pun merobohkan bagian utaranya dan mengeluarkan al Hijr sebagaimana yang telah dibangun orang-orang suku Quraisy serta menjadikan Ka’bah memiliki satu pintu saja yang lebih ditinggikan serta menutup pintu yang lainnya.

Akan tetapi, kemudian Al Harits bin 'Abdullah bin Abi Rabi’ah menguatkan dan membenarkan pendengaran Abdullah bin Zubair di hadapan Abdul Malik bin Marwan al Umawiy, sehingga menyebabkan  Abdul Malik bin Marwan al Umawiy menyesal telah menghancurkan Ka’bah yang telah dibangun kembali oleh Abdullah bin Zubair

Juga diriwayatkan bahwa, Khalifah Harun ar Rasyid telah berencana untuk menghancurkan Ka’bah dan membangunnya kembali sebagaimana bangunan Abdullah bin Zubair, akan tetapi Imam Malik bin Anas berkata kepadanya: “Aku bersumpah, demi Allah, wahai Amirul Mukminin, janganlah engkau menjadikan Ka’bah ini sebagai permainan para raja setelah engkau, sehingga tidaklah seseorang dari mereka yang ingin merubahnya, kecuali dia pun akan merubahnya, dan kemudian hilanglah kewibawaan Ka'bah dari hati kaum Muslimin,” lalu Khalifah Harun ar Rasyid pun menggagalkan rencana tersebut, sehingga Ka’bah masih tetap seperti itu sampai sekarang ini. (As Sirah an-Nabawiyah fi Dhu'il-Mashadir, halaman 53.)

Generasi Keduabelas : Disempurnakan oleh Sultan Murad Khan IV. Syaikh Muhammad Thahir al Kurdi mengatakan, yang memotivasi pembangunan oleh  Sultan Murad Khan IV, yaitu adanya hujan deras yang turun pada pagi hari Rabu, 19 Sya'ban 1039 H di Makkah dan sekitarnya, yang belum pernah terjadi sebelumnya, sehingga menyebabkan air masuk ke dalam Masjid al Haram hingga ketinggian 2 meter dari pegangan pintu Ka'bah. Kemudian, pada 'Ashar keesokan harinya, yaitu hari Kamis, dua sisi tembok bagian asy Syami (sebelah utara) Ka'bah runtuh, dan tertarik juga tembok timur sampai pintu Al Syaami dan tidak sisa kecuali itu dan tiang pintunya. Dari tembok barat tersisa seperenamnya. Dari sisi yang tampak ini, hanya sekitar dua per tiganya saja, serta sebagian atap yang sejajar dengan tembok asy Syami (utara) ikut roboh.

Syaikh Abdullah Al Ghazi Al Hindi Al Makki rahimahullah, seorang pakar sejarah, dia mengatakan dalam kitab tarikhnya, bahwa yang roboh dari sisi asy syami (utara) adalah yang dibangun oleh Al Hajaj bin Yusuf ats Tsaqafiy. Demikian juga, tangga ke atap Ka'bah ikut runtuh. Pernyataan ini sesuai benar dengan kenyataannya. Maka setelah mengadakan musyawarah dengan para ulama Makkah,  Sultan Murad Khan IV memerintahkan pembangunan Ka'bah dan dapat diselesaikan pada bulan Ramadhan 1040 H, sesuai dengan bentuk bangunan  Al Hajaj bin Yusuf ats Tsaqafiy. Pembangunan  Sultan Murad Khan IV  inilah yang terakhir, hingga sekarang ini. (At Tarikhul-Qawim li Makkata wa Baitullah al Karim, 3/126-127.)

Demikian sejarah pembangunan Ka'bah yang disampaikan para ahli sejarah Islam. ka’bah hingga hari ini yang tetap kokoh dan menggetarkan setiap orang yang melihatnya. Mudah-mudahan dapat menambah pengetahuan dan pengagungan kita terhadap Baitullah, al Haram dan kiblat kaum Muslimin yang agung ini. Wallahu'alam bissawab. Sumber : www.waspada.co.id, www.almanhaj.or.id,


PT ARMINAREKA PERDANA SURABAYA
Penyelenggara Perjalanan Umroh & Haji Plus sejak 1990
Izin Umroh D/146 th 2012 & Izin Haji Plus D/230 th 2012
Kantor Perwakilan Surabaya - Jawa Timur
Divisi Marketing Lima Utama Sukses
Konsorsium Juanda Surabaya
Jl. Semolowaru Elok AL 2
031-7111 3345
www.arminarekajatim.blogspot.com

KANTOR PUSAT PT ARMINAREKA PERDANA
Gedung Menara Salemba Lt.V
Jl.Salemba Raya No.05 Jakarta Pusat 10440
Telp: 021.3984 2982, 3984 2964 
Fax : 021.3984 2985
www.arminarekaperdana.com     

Hari Asyura dan Kebinasaan Firaun


Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dari Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma, ia berkata, “Saat Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa Asyura (10 Muharam). Lalu beliau bertanya, ‘Apa yang kalian lakukan?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah hari baik. Hari dimana Allah SWT selamatkan Bani Israil dari musuhnya, maka Musa ‘alaihissalam berpuasa pada hari ini’.” (HR. Bukhari). Dalam riwayat Imam Muslim ditambahkan “Sebagai ungkapan syukur kepada Allah Ta’ala, maka kami pun berpuasa”.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Saya lebih berhak atas Musa ‘alaihissalam dari kalian (kaum Yahudi). Maka beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan ummatnya untuk melakukannya”. (HR. Bukhari).

Dalam riwayat Muslim “Ini adalah hari yang agung. Allah SWT menyelamatkan Nabi Musa AS dan kaumnya. Sedangkan Firaun dan kaumnya ditenggelamkan”.

Kisah binasanya orang-orang zhalim yang terdapat di dalam Alquran, seperti Firaun, kaum Nabi Nuh, kaum ‘Aad, kaum Tsamud, kaum Nabi Luth, dll. selalu memunculkan pelajaran yang mendalam. Mereka tidak dibinasakan begitu saja, mudah dilupakan, dan tidak meninggalkan pelajaran untuk dipetik. Allah SWT membinasakan mereka dengan cara tertentu dengan kebijaksanaan-Nya sehingga mereka kekal dalam ingatan dan tidak dilupakan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. Dan kebanyakan mereka tidak beriman.” (QS. Asy-Syuara: 8).

Tentang kaum Nabi Hudan dan Nabi Hud, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ * وَإِنَّهَا لَبِسَبِيلٍ مُقِيمٍ * إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِلْمُؤْمِنِين

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.

Tewasnya Firaun

Saat mengejar Nabi Musa AS, Firaun memimpin pasukannya dengan penuh kesombongan. Ia begitu tertipu dengan kekuasaan yang ia miliki. Ketika melihat laut terbelah, bukannya ia teringat akan kekuasaan Allah SWT yang jelas-jelas terpampang di hadapannya, Firaun malah bertambah sombong dan berusaha sekuat tenaga mengejar Nabi Musa AS. Setelah berada di tengah laut, Allah SWT binasakan dia dan pasukannya dalam sekejap saja.

Kemudian Allah SWT tidak hancurkan jasad Firaun sebagai pelajaran.

آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ. فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

“Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal Sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.” (Qs. Yunus: 91-92)
Jasad Firaun

Jasad Firaun

Orang-orang yang beriman memandang hal ini sebagai kekuasaan Allah SWT yang luar biasa. Keimanan mereka semakin bertambah dan semakin yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Peristiwa ini juga mengajarkan bahwa orang zalim itu akan binasa dengan kezaliman mereka betapapun lama masa kekuasaan mereka. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ قَالَ ثُمَّ قَرَأَ: وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala betul-betul menangguhkan siksaan bagi orang yang berbuat zalim. Sampai tatkala Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan melepaskannya.” Kemudian Rasulullah membaca ayat, “Begitulah siksaan Rabbmu apabila Dia menyiksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya siksaan-Nya itu sangat pedih lagi keras.” (QS. Huud: 102).” (HR. Al-Bukhari no. 4318 dan Muslim no. 2583).

Sunnatullah terhadap orang-orang yang zalim ini terus berlangsung, tidak hanya terbatas pada umat-umat terdahulu saja. Allah Ta’ala berfirman,

وَكَمْ قَصَمْنَا مِنْ قَرْيَةٍ كَانَتْ ظَالِمَةً وَأَنْشَأْنَا بَعْدَهَا قَوْمًا آَخَرِينَ

“Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang teIah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya).” (QS. Al-Anbiya: 11).

Sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Jahl di hari kematiannya “Ini adalah Firaunnya umat ini”.

Penutup

Pada hari 10 Muharram, hari Asyura, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk berpuasa. Dengan demikian hari ini selalu diingat oleh umat Islam dan dijadikan pelajaran bahwa pertolongan Allah SWT itu akan datang kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sedangkan kezaliman itu akan sirna.

Sumber: www.KisahMuslim.com

Kisah Isra’ Mi’raj


“Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”. (QS. Al-Isra` : 1)

Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahihnya , dari sahabat Anas bin Malik :Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

“Didatangkan kepadaku Buraaq – yaitu yaitu hewan putih yang panjang, lebih besar dari keledai dan lebih kecil dari baghal, dia meletakkan telapak kakinya di ujung pandangannya (maksudnya langkahnya sejauh pandangannya). Maka sayapun menungganginya sampai tiba di Baitul Maqdis, lalu saya mengikatnya di tempat yang digunakan untuk mengikat tunggangan para Nabi. Kemudian saya masuk ke masjid dan shalat 2 rakaat kemudian keluar . Kemudian datang kepadaku Jibril  ‘alaihis salaam dengan membawa bejana berisi  khamar dan bejana berisi air susu. Aku memilih bejana yang berisi air susu. Jibril kemudian berkata : “ Engkau telah memilih (yang sesuai) fitrah”.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit (pertama) dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Adam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian kami naik ke langit kedua, lalu Jibril ‘alaihis salaam  meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi:“Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kedua) dan saya bertemu dengan Nabi ‘Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakariya shallawatullahi ‘alaihimaa, Beliau berdua menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketiga dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan Yusuf ‘alaihis salaam yang beliau telah diberi separuh dari kebagusan(wajah). Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keempat dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):

“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab: “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketiga) dan saya bertemu dengan  Idris alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Allah berfirman yang artinya : “Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi” (Maryam:57).

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit kelima dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya):“Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab:“Muhammad” Dikatakan:“Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit kelima) dan saya bertemu dengan  Harun ‘alaihis salaam. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku.

Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit keenam dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” Dia menjawab:“Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab: “Muhammad” Dikatakan: “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab:“Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit) dan saya bertemu dengan Musa. Beliau menyambutku dan mendoakan kebaikan untukku. Kemudian Jibril naik bersamaku  ke langit ketujuh dan Jibril meminta dibukakan pintu, maka dikatakan (kepadanya): “Siapa engkau?” 

Dia menjawab: “Jibril”. Dikatakan lagi: “Siapa yang bersamamu?” Dia menjawab, “Muhammad” Dikatakan, “Apakah dia telah diutus?” Dia menjawab, “Dia telah diutus”. Maka dibukakan bagi kami (pintu langit ketujuh) dan saya bertemu dengan Ibrahim. Beliau sedang menyandarkan punggunya ke Baitul Ma’muur. Setiap hari masuk ke Baitul Ma’muur tujuh puluh ribu malaikat yang tidak kembali lagi. Kemudian Ibrahim pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata daun-daunnya seperti telinga-telinga gajah dan buahnya seperti tempayan besar. Tatkala dia diliputi oleh perintah Allah, diapun berubah sehingga tidak ada seorangpun dari makhluk Allah yang sanggup mengambarkan keindahannya

 Lalu Allah mewahyukan kepadaku apa yang Dia wahyukan. Allah mewajibkan kepadaku 50 shalat sehari semalam. Kemudian saya turun menemui Musa ’alaihis salam.  Lalu dia bertanya: “Apa yang diwajibkan Tuhanmu atas ummatmu?”. Saya menjawab: “50 shalat”. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan, karena sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya. Sesungguhnya saya telah menguji dan mencoba Bani Isra`il”. Beliau bersabda :“Maka sayapun kembali kepada Tuhanku seraya berkata: “Wahai Tuhanku, ringankanlah untuk ummatku”. Maka dikurangi dariku 5 shalat. Kemudian saya kembali kepada Musa dan berkata:“Allah mengurangi untukku 5 shalat”. Dia berkata:“Sesungguhnya ummatmu tidak akan mampu mengerjakannya, maka kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”. 

Maka terus menerus saya pulang balik antara Tuhanku Tabaraka wa Ta’ala dan Musa ‘alaihis salaam, sampai pada akhirnya Allah berfirman:“Wahai Muhammad, sesungguhnya ini adalah 5 shalat sehari semalam, setiap shalat (pahalanya) 10, maka semuanya 50 shalat. Barangsiapa yang meniatkan kejelekan lalu dia tidak mengerjakannya, maka tidak ditulis (dosa baginya) sedikitpun. Jika dia mengerjakannya, maka ditulis(baginya) satu kejelekan”. Kemudian saya turun sampai saya bertemu dengan Musa’alaihis salaam seraya aku ceritakan hal ini kepadanya. Dia berkata: “Kembalilah kepada Tuhanmu dan mintalah keringanan”, maka sayapun berkata: “Sungguh saya telah kembali kepada Tuhanku sampai sayapun malu kepada-Nya”. (H.R Muslim 162)

Untuk lebih lengkapnya, silahkan merujuk ke kitab Shahih Bukhari hadits nomor 2968 dan 3598 dan Shahih Muslim nomor 162-168 dan juga kitab-kitab hadits lainnya yang menyebutkan kisah ini. Terdapat pula tambahan riwayat tentang kisah ini yang tidak disebutkan dalam hadits di atas.

Dari artikel 'Kisah Isra’ Mi’raj — Muslim.Or.Id'

Hebron Ziarah Di Kota Tiga Nabi



MASJID IBRAHIM DI KOTA HEBRON JERUSALEM

Hebron adalah nama lain dari al-Khalil, yaitu nama yang disematkan pada Nabi Ibrahim AS. Hebron terkadang disebut pula dengan nama Hebrew. Kota ini terletak di Tepi Barat, Palestina. Ia merupakan salah satu kota terbesar di Tepi Barat, atau sekitar 30 kilometer di selatan Jerusalem.

Hebron merupakan salah satu pusat perdagangan di Tepi Barat. Di wilayah ini banyak diperdagangkan berbagai kebutuhan sehar-hari, seperti anggur, buah ara, kapur, tembikar, dan susu. Kota ini juga  ramai di kunjungi. Sebab, di kota ini terdapat makam Nabi Ibrahim AS dan istrinya, Siti Sarah. Terdapat juga makam Nabi Ishak AS dan istrinya Ribka serta Nabi Ya'kub AS beserta istrinya Leah. Karenanya, Hebron merupakan salah satu kota suci bagi Yahudi.

Interior Masjid Ibrahim 

Di sana terdapat sebuah bangunan yang sangat indah, berbentuk persegi empat. Dikenal dengan  Masjid Ibrahim (Al-Haram Al-Khalil). Di sekitar bangunan tersebut, terdapat perkampungan yang sangat maju dalam bidang pertanian dan perkebunan. Ada banyak kebun anggur, apel, dan lainnya.

Atap Masjid Ibrahim 

Di dalam Masjid Ibrahim terdapat makam Nabi Ibrahim AS dan istrinya Siti Sarah, Nabi Ishak AS dan istrinya Ribka, Nabi Ya'kub AS dan istrinya Leah. Tepatnya berada di bawah lantai Masjid Ibrahimi yang disebut Gua Para Leluhur (Machpelah). Karena itulah, kaum Yahudi menganggap suci kota ini.

Makam Nabi Ibrahim AS

Setiap makam memiliki bentuk yang berbeda antara makam laki-laki dan makam perempuan. Makam laki-laki berbentuk segi delapan (octagonal) dan persegi enam adalah makam perempuan, seperti makamnya Sarah dan Leah.

Pada era Isa al-Masih AS, di pemakaman ini dibangun sebuah tembok yang mengelilinginya dan kawasan ini dinamakan dengan Kampung Rumah Ibrahim al-Khalil. Tak salah bila Kota Hebron ini disebut dengan Kota Tiga Nabi, yakni Nabi Ibrahim AS, Ishak AS, dan Ya'kub AS.
 
HEBRON PADA MASA PEMERINTAH ISLAM

Kota Hebron masuk dalam wilayah pemerintahan Islam di zaman Khalifah Umar bin Khattab. Yakni, sekitar tahun 638 M. Pemerintahan Islam berhasil memasuki Kota Hebron tanpa perlawanan

Selama masa itu, kehidupan masyarakat berjalan damai dan tenteram. Bahkan, pusat perdagangan berkembag pesat. Khususnya dengan orang Badui di Tanah Nageb dan penduduk di sebelah timur dari Laut Mati. Ahli geografi Jerusalem, George A Makdisi, menggambarkan keindahan kota itu pada tahun 985 M.

Pada masa pemerintahan Mamluk dan Ayyubiyah, wilayah Hebron berganti nama menjadi al-Khalil. Nama ini diberikan oleh Shalahuddin al-Ayyubi setelah ia merebut kota tersebut pada tahun 1.187 M. Kemudian pemerintahan Ayyubiyah digantikan oleh kekuasaan Turki Usmani.

Di masa inilah, dikeluarkan dekrit yang melarang orang Kristen dan Yahudi memasuki kota itu. Dan hingga pertengahan abad ke-14, dekrit tersebut berakhir dengan diberikannya kesempatan kepada semua orang untuk memasukinya, termasuk kompleks perkampungan al-Khalil.

Wallahu'alam bissawab

Masjid Kubah Batu (Qubbat As-Sakhrah) di Jerusalem



MASJID KUBAH BATU (QUBBAT AS-SAKHRAH)

Qubbat As-Sakhrah atau “Dome of the Rock” atau lebih dikenali sebagai Masjid Kubah Kuning adalah bangunan islam yang tercantik di dunia. Didalamnya terdapat sebuah batu besar yang dikatakan tempat berdirinya Rasulullah SAW hendak naik ke langit di dalam peristiwa Israk dan Mikraj.

Masjid Qubbat As Sakhrah yang terletak di sudut paling selatan kawasan Haram Asy-Syarif ini telah dibangun oleh Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 638 Masehi. (Baca : Sejarah Masjid Al Aqsa di Jerusalem)

Di sisi bawah Masjid Qubbat As Sakhrah merupakan Tembok Ratapan

Jika kita menghadap masjid ini, di sebelah kanan ada dinding yang menurun ke bawah. Inilah tembok Al Buraq atau Tembok Ratapan yaitu tempat yang dikatakan suci oleh orang Yahudi. Orang Yahudi dan Kristian tidak dibenarkan berada di kawasan Haram Al-Sharif ini kecuali beberapa hari tertentu dalam setahun.

Di sisi utara Masjid Qubbat As Sakhrah adalah Masjid Al Aqsa

Jarak antara Masjid Qubbat As Sakhrah dan Masjid Al-Aqsa adalah kira-kira 50-100 meter. Ketika memasuki kawasan tanah suci, anda terpaksa diperiksa oleh askar Yahudi. Namun patut dipahamkan, askar tersebut  untuk menghalang kemasukkan orang Kristian atau Yahudi ke kawasan suci orang Islam. Pernah terdapat peristiwa oleh kaum yahudi yang mencoba membakar Masjid Al-Aqsa.

PENAKLUKAN BAITULMUQADDIS

Pada tahun 638 Masehi, selepas beberapa tahun kewafatan Nabi Muhammad SAW, tentera Islam mengepung Baitulmuqaddis. Ketua Gereja Baitulmuqaddis, Monofisit Sophronius, menyerahkan kota itu selepas kepungan yang singkat.

Saidina Umar bin Khattab memasuki Baitulmuqaddis dengan berjalan. Tidak ada pertumpahan darah dan tidak ada pembunuhan oleh tentera Islam. Siapa pun yang ingin meninggalkan Baitulmuqaddis dengan segala harta benda mereka, dibenarkan berbuat demikian. Siapa pun yang ingin terus tinggal, akan dijamin keselamatan nyawa, harta benda, dan tempat beribadat mereka. Semua ini terkandung dalam Perjanjian Umariyya.

Saidina Umar bin Khattab kemudian menemani Sophronious ke gereja Church of the Holy Sepulchre yang mana Saidina Umar bin Khattab ditawarkan shalat di dalamnya. Saidina Umar bin Khattab menolak, takut akan timbulnya prasangka. Saidina Umar bin Khattab sebaliknya menunaikan shalat di sebelah selatan gereja tersebut yang kini merupakan Masjid Umar di Baitulmuqaddis.

Saidina Umar bin Khattab kemudian meminta supaya dibawa ke tempat Masjid Al-Aqsa dengan ditemani beratus-ratus orang Islam. Saidina Umar bin Khattab mendapati tempat itu dipenuhi dengan debu dan sampah karena telah ditinggalkan beratus tahun sejak dimusnahkan oleh tentera Romawi. Saidina Umar bin Khattab terus mengarahkan supaya tempat itu dibersihkan dengan serta-merta. Sebuah masjid yang dibuat dari kayu didirikan pada masa Saidina Umar bin Khattab di sebelah paling selatan Masjid Al-Aqsa Al Haram Al Sharif.

PEMBESARAN MASJID QUBBAT AS-SAKHRAH

Sekitar tahun 690 Masehi, Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Kerajaan Islam Bani Umayyah telah membina dan membesarkan masjid ini.

Khalifah Abdul Malik bin Marwan ketika hendak membangun Qubbat As-Sakhrah, dia ingin tahu pendapat rakyatnya Dia menulis kepada rakyatnya, bahwa “Abdul Malik bin Marwan berkehendak untuk membangun sebuah kubah di atas As-Sakhrah (Batu) untuk melindungi orang Muslim dari panas dan sejuk”. 

Dan rakyatnya pun menyetujui dan membalasnya dengan doa, "Semoga Allah SWT membenarkan proyek ini, dan semoga Allah SWT merestui pembangunan Masjid dan Kubah ini dan memberi rahmat kepada Abdul Malik bin Marwan dan para penggantinya." Setelah mendapat persetujuan dari rakyat, Khalifah Abdul Malik bin Marwan kemudian mengumpulkan tukang-tukang dari semua wilayah kekuasaannya dan meminta mereka untuk menyediakan deskripsinya dan bentuk perancangan kubah”

Kemudian masjid ini yang pada awalnya dikenali sebagai Masjid Umar telah ditukarkan namanya kepada "Dome of The Rock" atau Masjid Qubbat As-Sakhrah dan nama ini kekal dipakai hingga hari ini .

Masjid Qubbat As-Sakhrah "Dome of the Rock"

Sesungguhnya Masjid Qubbat As-Sakhrah dan kawasan sekitarnya merupakan kawasan tanah suci karena masih termasuk di dalam kawasan Al Haram Al Sharif. Keistimewaan Masjid Qubbat As-Sakhrah telah menjadikan bangunan ini sebagai simbol utama bagi Kota Suci Baitulmuqaddis.

Wallahu'alam bissawab.

Sejarah Masjid Al-Aqsa Di Jerusalem



SEJARAH MASJID AL-AQSA DI JERUSALEM

Masjid Al-Aqsa, juga ditulis Al-Aqsha di dalam bahasa Arab bermakna "masjid terjauh" adalah salah satu tempat suci agama Islam yang menjadi bagian dari kompleks bangunan suci di Kota Lama Jerusalem (Jerusalem Timur). Kompleks tempat masjid ini (di dalamnya juga termasuk Kubah Batu) dikenal oleh umat Islam dengan sebutan Al-Haram Asy-Syarif atau "tanah suci yang mulia". Tempat ini oleh umat Yahudi dan Kristen dikenal pula dengan sebutan Bait Suci (Temple Mount), suatu tempat paling suci agama Yahudi yang umumnya dipercaya merupakan tempat Bait Pertama dan Bait Kedua dahulu pernah berdiri.

Dalam peristiwa Isra' Mi'raj Nabi Muhammad SAW diangkat ke Sidratul Muntaha dari tempat ini setelah sebelumnya dibawa dari Masjid Al-Haram di Makkah ke Al-Aqsa. Peristiwa itu terjadi kira-kira pada tahun kesembilan (620 M) dari penyebaran Islam oleh Nabi Muhammad SAW. Di malam yang hening, dengan didampingi Malaikat Jibril, Nabi Muhammad SAW lantas singgah di Al Aqsha dalam perjalanan Isra Miraj untuk menerima perintah shalat. Masjid itu juga adalah bagian dari awal sejarah dimulainya penyebaran agama Islam

Peristiwa Isra' Mi'raj tertuang dalam Al-Qur'an sebagaimana Firman Allah SWT: “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. Al-Isra : 1)

Ayat di atas adalah bukti kesucian Masjid Al-Aqsa dan Jerusalem, kota tempat masjid itu didirikan sebagai tempat yang disucikan bagi umat Islam sedunia, sebagaimana Makkah yang disucikan karena terdapat Baitullah atau Ka’bah di dalamnya.

Masjid Al Aqsha secara luas dianggap sebagai tempat suci ketiga oleh umat Islam tercatat sebagai salah satu masjid tertua dan memiliki nilai religius tinggi bagi umat Muslim. Nabi Muhammad SAW bersabda : Tidak boleh bersusah payah mengadakan perjalanan kecuali ke tiga masjid, yaitu Masjidil Haram, Masjid Nabawi dan Masjid Al-Aqsa.  (HR. Bukhari no: 1189.)

Sejarah bahkan mencatat, masjid agung tersebut merupakan kiblat pertama sebelum kemudian berganti ke Ka’bah. Terdapat beberapa hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim, yang menegaskan bahwa selama Nabi Muhammad SAW bersama para sahabat berada di Madinah, mereka melaksanakan shalat dengan berkiblat ke Masjid Al Aqsha.

Peristiwa itu terjadi pada tahun ke-2 Hijriyah hari Senin bulan Rajab waktu dhuhur, ketika Nabi Muhammad SAW tengah menunaikan shalat di masjid di Madinah, turunlah firman Allah SWT yang memerintahkan umat Muslim agar memalingkan wajah (berkiblat) ke Masjidilharam. Sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut : “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.  (QS Al Baqarah : 144)

Padahal, ketika turun wahyu tersebut shalat telah berlangsung dua rakaat. Maka begitu mendengar wahyu tersebut, serta merta Rasulullah SAW dan para shahabat langsung memindahkan arah kiblatnya atau memutar arah 180 derajat. Dan peristiwa perpindahan kiblat itu dilakukan sama sekali tanpa membatalkan shalat. Juga tidak dengan mengulangi shalat dua rakaat sebelumnya. Ayat itu sendiri adalah ayat yang diturunkan kepada Rasulullah SAW yang telah lama mengharapkan dipindahkannya kiblat dari Masjidil Al Aqsa ke Masjidil Haram.

Merujuk pada peristiwa tersebut, lalu masjid ini dinamakan Masjid Qiblatain, yang artinya masjid berkiblat dua. (Baca: Sejarah Masjid Qiblatain Madinah). Pada awalnya, kiblat shalat untuk semua Nabi adalah Baitullah di Makkah yang dibangun pada masa Nabi Adam AS (Baca : Sejarah Pembangunan Ka’bah). Sebagaimana firman Allah SWT sebagai berikut: Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk tempat beribadah manusia ialah Baitullah di Makkah yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia.. (QS. Ali Imran : 96).

Setelah Nabi Adam AS turun ke bumi, atas arahan Allah SWT, Nabi Adam AS membina rumah ibadah yg pertama di bumi yaitu K’abah lalu bertawaf mengelilinginya. Kemudian, Nabi Adam AS mendirikan Al-Aqsa 40 tahun kemudian. (Baca : Siapakah Yang Membangun Masjid Al –Aqsa). Adapun Nabi Ibrahim AS hanya membangunkan kembali (renofasi) tapaknya yang telah roboh akibat faktor cauca.

Menurut Sejarah of Al Aqsa Mosque karya Kais Al Khalby, Al Aqsa inilah digunakan sebagai tempat bersujud bagi Nabi Ibrahim AS, Siti Sarah, Nabi Ishak AS dan anak turunnya yang menghuni Jerusalem. Disebut juga sebagai Baitul Maqdis/Beteyel/Holy Shrine.

Pasca kelaparan di era Nabi Yusuf AS, keluarga Nabi Yakub AS meninggalkan Baitul Maqdis untuk mengadu peruntungan di Mesir, dan meninggalkan urusan rumah Tuhan kepada suku asli Jerusalem yang kemudian dikenal sebagai suku Filistin. Hampir 400 tahun sejak loss connection antara bangsa Israel dengan Baitul Maqdis dan orang - orang Palestina. Sampai Nabi Musa AS menyelamatkan mereka dari perbudakan Fir’aun dan membawa mereka ke tanah yang dijanjikan.

Dua kurun kemudian Nabi Daud AS memimpin kaum Bani Israel menjadikan Jerusalem sebagai pusatnya. Nabi Sulaiman AS kemudiannya mewarisi takhta Nabi Daud AS dan membina rumah ibadat di kawasan suci ini. Kota ini pernah ditawan dan diperintah oleh terlalu banyak kerajaan dan kuasa – inilah yang menyebabkan bumi As-Syahid ini begitu ‘kaya’ dengan sejarah.

Di masa Nabi Sulaiman AS inilah dibangun sebuah “Masjid” lagi untuk menyembah Tuhan yang mereka sebut sebagai Kuil Sulaiman. Mengingat tempatnya yang lagi-lagi bertempat di Baitul Maqdis sangat mungkin jika Kuil Sulaiman sendiri adalah pemugaran terhadap Masjidil Aqsa yang dibangun Nabi Ibrahim AS.

Di tahun 638 Masehi, Kekhalifahan Islam membentangkan kekuasaannya hingga Jerusalem.  Khulafaur Rasyidin Umar bin Khattab menandatangani kesepakatan dengan Patriakh Kristen Monofisit Sophronius untuk meyakinkan dia bahwa tempat-tempat suci dan umat Kristen Jerusalem akan dilindungi di bawah kekuasaan orang Muslim.  

Di tengah-tengah kawasan ini, terdapat batu di mana berpijaknya Nabi Muhammad SAW ketika peristiwa Isra’ dan Mi’raj. Di sudut paling selatan kawasan Haram Asy-Syarif (The Noble Sanctuary) ini, terdapat sebuah masjid yang dikenali sebagai Masjid Kubah Kuning (Dome of the rock). Dikenali juga sebagai Masjid Umar merupakan bangunan kayu persegi yang dibangun di atas sisa-sisa bangunan yang dapat menampung 3.000 jamaah. Umar bin Khattab membangun dari Batu Fondasi di Bukit Bait, yang sebelumnya telah ia bersihkan untuk mempersiapkan bangunan masjid. 

Sekitar tahun 690 Masehi, Khalifah Abdul Malik bin Marwan dari Umayyah mempersiapkan pembangunan Kubah Shakhrah (Dome oh the Rock).  Kemudian diikuti dengan pembangunan Masjidil Aqsha yang selesai pada tahun 710 Masehi. Hal ini antara lain berkaitan dengan bertambahnya jumlah jamaah tanpa mengubah bentuk dasar bangunan yang telah berusia sekitar 13 abad. Demikianlah hingga membuat Masjid Al-Aqsa selalu dimuliakan oleh segenap umat Islam.

Kubah Shakhrah (Dome oh the Rock)
Kubah Shakhrah (Dome oh the Rock) inilah yang kemudian diperkenalkan oleh Israel kepada dunia internasional sebagai Masjid Al-Aqsa untuk menipu umat Islam dunia, dan menjauhkannya dari pengetahuan dan pengawasan kaum Muslimin. Kubah ini letaknya di dalam wilayah yang sama dengan Masjid Al-Aqsa atau di area Al-Haram Asy-Syarif.

Tujuan utama media Yahudi menyamarkan Masjid Sakhra (Dome of the Rock) sebagai Masjid Al-Aqsa adalah agar Yahudi bisa menghancurkan Al Aqsa dan membangun “Solomon Temple” (Kuil Sulaiman) pada bekas reruntuhan Al Aqsa.  Umat Yahudi meyakini dalam Kitab Perjanjian Lama (Taurat) bahwa akan datang di akhir zaman seorang yang mereka anggap sebagai dewa penolong Yahudi yang dinamakan “Messiah” (Al Masih, dalam bahasa Arab) apabila mereka mengadakan ritual agama di Solomon Temple dengan mempersembahkan sapi betina berwarna merah (QS. Al Baqarah).

Wallahu'alam bissawab.