Hajar Aswad Tempat Mustajab Di Masjidil Haram




Hajar Aswad adalah batu berwarna hitam yang berada disudut tenggara Ka’bah, dilingkari besi putih yang diikat dengan timah, terletak kira-kira setinggi satu setengah meter dari permukaan lantai Masjid. Dari sudut inilah putaran Thawaf dimulai dan diakhiri, dan kalau keadaan memungkinkan, setiap mulai putaran, disunnahkan mencium atau menyalami atau mengusap dengan tangan kanan pada Hajar Aswad ini, dan kalau tidak mungkin, disunnahkan melambaikan tangan kanan seolah-olah memberi isyarat menyalami.



Diterangkan bahwa Sayyidina Umar (Kalifah II) sebelum mencium Hajar Aswad mengatakan, "Sesungguhnya aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak membahayakan, dan tidak pula dapat memberi manfaat. Seandainya aku tidak melihat Rasulullaah saw menciummu, maka sekali-kali aku tidak akan menciummu." (H.R. Mulsim No. 228).

Jadi mencium Hajar Aswad ini bukanlah suatu kewajiban bagi umat Islam, tetapi merupakan anjuran dan sunnah hukumnya, maka kalau keadaan tidak memungkinkan karena penuhnya orang berdesakan, sebaiknya anda ganti dengan menyalami dari jauh. Karena sudah banyak kasus kecelakaan (terinjak-injak) di sekitar tempat ini.

“Nanti pada hari kiamat, Hajar Aswad akan tampak memiliki mulut dan menyatakan atau menyaksikan siapa-siapa yang pernah mencium atau menyalami dia dengan niat baik”. Dari Ibnu Abbas ra. bahwa Rasulullah saw bersada, 
Demi Allah, Allah akan membangkit hajar Aswad ini pada hari qiyamat dengan memiliki dua mata yang dapat melihat dan lidah yang dapat berbicara. Dia akan memberikan kesaksian kepada siapa yang pernah mengusapnya dengan hak. At-Tirmizi mengatakan bahwa hadits ini hadits hasan. Sedangkan Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih dalam kitab Shahihul Jami` no. 2180, 5222 dan 6975. 

Maqam Ibrahim Tempat Mustajab Berdoa Di Masjidil Haram



Maqam berarti tempat pijakan, Maqam Ibrahim adalah batu yang dipergunakan Nabi Ibrahim as untuk berpijakan ketika membangun Ka'bah. Menurut salah satu riwayat, Batu ini merupakan salah satu batu yang turun dari surga seperti halnya Hajar Aswad.

Di batu ini ada bekas telapak kaki Nabi Ibrahim as karena ketika Nabi Ibrahim as menginjaknya ia menjadi empuk sehingga kedua kaki beliau masuk sedalam 9 cm dan anehnya, batu ini dapat naik keatas dan turun sendiri sesuai keperluan Nabi Ibrahim as ketika membangun tembok Ka’bah.

Batu pijakan ini layaknya seperti tangga elevator yang bisa naik dan turun. ketika Nabi Ibrahim as membangun Ka'bah, saat tembok Ka'bah ditinggikan, batu pijakan tersebut juga ikut naik.

Dalam kitab Akhbaar Makkah diterangkan bahwa setelah Nabi Ibrahim as menyelesaikan pembangunan Ka’bah, beliau diperintahkan memanggil semua umat manusia untuk berhaji di Baitullah Al-Haram (Makkah). Lantas Nabi Ibrahim as naik batu yang dinaiki ketika membangun Ka’bah dan batu itu pun langsung naik ke atas sampai lebih tinggi dari pada gunung-gunung yang ada di Makkah.

Dengan kehendak Allah SWT suara Nabi Ibrahim as dapat didengar oleh semua manusia yang ada dan yang akan ada sehingga mereka menjawab, Ya…ya…aku penuhi panggilanmu”. Maka mereka yang menjawab sekali, dia akan dapat berhaji sekali sepanjang umurnya, yang menjawab dua kali akan dapat berhaji dua kali, yang tiga kali akan berhaji tiga kali, dan begitu seterusnya. Adapun yang pada waktu itu tidak menjawab, ia tidak akan dapat melakukan ibadah haji sepanjang umurnya.

Islam tidak menganjurkan umatnya untuk mencium atau mengusap Maqam Ibrahim, namun Islam mengajarkan agar umatnya menghormati Maqam Ibrahim itu sebagai bukti dan tanda kebesaran Allah SWT yang ada di bumi ini. Disunahkan sholat sunah dua rakaat setelah selesai thawaf di belakang Maqam Ibrahim ini.

Tempat ini juga merupakan salah satu tempat mustajabah untuk berdoa. Bacalah doa dengan khusyu’ dan mantap tentang apa yang sedang anda harapkan dari Allah SWT. Tempat ini pun termasuk lokasi yang baik untuk kontak langsung dengan Allah SWT. Seperti Hajar Aswad, batu Maqam Ibrahim ini pun diturunkan oleh Allah SWT dari Surga dan Allah SWT akan selalu menjaganya sampai nanti mendekati hari Qiyamat batu ini ditarik kembali ke Surga. Kalau anda melihatnya di dunia, insya Allah kelak melihatnya lagi di Surga, Amin…



Hijir Ismail Tempat Mustajab Berdoa Di Masjidil Haram



Hijir ismail adalah bangunan terbuka, berbentuk setengah lingkaran berada disebelah sisi barat Ka'bah. Disebut Hijir Ismail karena merupakan tempat berteduh Nabi Ismail as Dan Siti Hajar. Menurut salah satu riwayat Nabi Ismail as juga dikuburkan di Hijir Ismail tersebut. Wallahu'alam. Hijir Ismail juga merupakan salah satu tempat yang mstajabah untuk berdoa. 

Jika Anda ingin sholat di dalam Ka'bah cukup sholat di hijir Ismail ini. Seperti sabda Rasulullah saw ketika Aisyah ra minta izin kepada Rasulullah saw untuk masuk ke Ka'bah untk sholat, maka Nabi SAW membawa Aisyah ke Hijir Ismail, dan berkata " Sholatlah kamu disini, kalau ingin sholat di Ka'bah karena ini termasuk sebagian dari Ka'bah". (HR. Turmidzi).

Dalam buku Sejarah Kota Makkah disebutkan bahwa panjang Ka'bah adalah 3 meter ke arah Hijir Ismail. Dikarenakan adanya pemugaran oleh kaum Quraisy dan sifat bakhilnya saat itu maka Ka'bah menjadai lebih kecil seperti bangunan sekarang. 

Jadi Hijir Ismail yang masih dianggap masuk Ka'bah seperti yang ditunjukkan Rasulullah saw tersebut adalah 3 meter dari tembok Ka'bah yang berhadapan dengan Hijir Ismail. Panjang Hijir Ismail sekitar 7 meter dari tembok Ka'bah sampai lengkung setengah lingkaran.


Multazam Tempat Mustajab Berdoa Di Masjidil Haram



Multazam adalah tempat di antara Pintu Ka’bah dan Rukun Hajar Aswad. Secara harfiah Multazam bermakna "tempat yang amat diperlukan". Tempat inilah yang dinyatakan oleh Rasulullah saw sebagai tempat yang paling mustajabah untuk berdoa:

Rasulullah saw bersabda,”Multazam adalah tempat doa yang mustajab (terkabul), tidak seorang pun hamba Allah SWT yang berdoa di tempat ini tanpa terkabul doanya.”

Rasulullah saw sendiri kalau sampai di tempat ini langsung memanjatkan doa. Dalam Kitab Akhbar Makkah, diterangkan ketika Nabi Adam as selesai melakukan tawaf, langsung dia salat dua rakaat di depan pintu Ka’bah, kemudian berdiri di Multazam dan berdoa. 

"Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui segala apa yang aku rahasiakan dan segala apa yang aku lakukan secara nyata, terimalah pengaduanku. Engkau Maha Mengetahui apayang ada dalam jiwaku dan segala apa yang ada padaku, ampunilah dosa-dosaku. Engkau Maha Mengetahui apa yang aku perlukan, berikanlah kepadaku apa yang aku minta. Ya Allah, aku mohon kepada-mu iman yang memenuhi hati dan keyakinan yang mantap benar sehingga menyadarkan aku bahwa tidak ada yang mencelakakanku kecuali apa yang telah Engkau pastikan untukku, dan menyadarkan aku sehingga aku rela atas apa yang Engkau tetapkan untukku". 
Setelah bedoa seperti di atas, Allah SWT menurunkan wahyu kepadanya yang artinya: "Wahai Adam, kau telah berdoa dengan beberapa permintaan, aku penuhi semua permintaan itu. Dan siapapun dari anak-anakmu yang berdoa dengan doamu itu, pasti aku hilangkan keresahan dan kesedihannya, dan Aku kembalikan apa yang hilang dari padanya, dan Aku cabut dari hatinya perasaan miskin, dan aku jadikan kaya ia dalam kenyataan, dan aku sukseskan perdagangan untuknya dari belakang dunia perdagangan, sehingga kekayaan dunia berdatangan kepadanya walaupun tanpa ia kehendaki". 

Saat bermunajat di depan Multazam ini, jarang orang tidak meneteskan air mata di sini, terharu karena kebesaran Ilahi.



Daftar Penyelenggara Haji dan Umrah Kementrian Agama RI


HIMBAUAN KEPADA
CALON JAMAAH HAJI dan UMROH INDONESIA

Banyaknya Calon Jamaah Haji dan Umroh GAGAL BERANGKAT disebabkan KBIH dan TRAVEL Bodong (ILEGAL) beserta Terlantarnya Jamaah HAJI NON KUOTA (tidak terdaftar SISKOHAT) di Tanah SUCI karena bujuk rayuan percepatan keberangkatan Haji oleh OKNUM KBIH dan TRAVEL


Agar tidak mengalami NASIB yang serupa

PASTIKAN KBIH & TRAVEL HAJI yang anda pilih TERDAFTAR di KEMENTRIAN AGAMA REPUBLIK INDONESIA

Berikut Daftar Penyelenggara Haji dan Umrah Resmi Kementrian Agama (klik disini)

Bingung download di Kementrian Agama?? silahkan download di bawah ini



PT ARMINAREKA PERDANA SURABAYA
Penyelenggara Perjalanan Umroh & Haji Plus sejak 1990
Izin Umroh D/142 th 2009 & Izin Haji Plus D/80 th 2009
Kantor Perwakilan Surabaya - Jawa Timur
Divisi Marketing Armina Utama Sukses
 Jl. Semolowaru Elok AL 2 Surabaya
Anisa: 031-7111 3345

Kantor Pusat
PT ARMINAREKA PERDANA 
Gedung Menara Salemba Lt.V
Jl.Salemba Raya No.05 Jakarta Pusat 10440
Telp : 021.3984 2982 , 3984 2964
Fax : 021.3984 2985
Web : www.arminautama.com

Aneka Modus Kejahatan di Tanah Suci yang Harus Diwaspadai

http://www.detiknews.com, Rabu, 12/10/2011 02:01 WIB

Madinah - Masih ada saja orang jahat di pusat ibadah seagung Masjid Nabawi, Madinah. Para penjahat, termasuk yang berasal dari Indonesia sendiri, memiliki sejumlah modus operandi kejahatan yang terus "diperbarui".

Kepala Sektor Khusus Masjid Nabawi bentukan Misi Haji Indonesia di Madinah, Hendra Wirawan, telah mengumpulkan sejumlah modus kejahatan yang terjadi. Hendra ditemui di ruang kerjanya di Elyasa Center, Madinah, Selasa (11/11/2011) pukul 18.00 WIB atau 22.00 WIB.

Penjelasan Hendra perlu disimak oleh para calon jamaah haji Indonesia yang belum berangkat ke Tanah Suci agar nantinya terus waspada. Modus itu adalah:
  1. Tas bawaan ditaruh di ujung sajadah/tempat sujud digondol maling. Kasus ini menimpa seorang jamaah dari Padang. Tasnya berisi 12 juta rupiah dan 1.500 riyal (living cost) serta kamera digital. Tas hilang pada rakaat ketiga. Pada saat yang sama, jamaah yang sedang salat di belakangnya bawaannya juga raib. Muncul kecurigaan pelakunya adalah anak yang berlarian di pelataran masjid. Polisi Saudi yang dilapori segera menangkap sejumlah anak yang berlarian. Tapi setelah dilihat, tidak ada indikasi mereka pelakunya. "Jadi sebaiknya tas tetap menempel di badan, jangan ditaruh," saran Hendra. 
  2. Perempuan bercadar dan berbaju hitam menyamar sebagai polisi wanita, menggeledah jamaah yang hendak masuk masjid. Seorang jamaah perempuan RI kehilangan HP akibat penggeledahan ini. Ada juga yang kehilangan dompet berisi 4.000 riyal karena dipepet orang. 
  3. Modus WNI mengantar jamaah RI tersasar. Setiba di tujuan, mereka minta bayaran. "Ada jamaah yang dimintai 50 riyal (Rp 125 ribu)," katanya. 
  4. Modus menawarkan membeli kambing untuk membayar dam. 
  5. Modus peminta-minta yang mengaku mahasiswa Palestina, meminta sumbangan. "Jamaah kita biasanya mudah iba. Kemarin saya nemui jamaah yang juga memberi sumbangan, kami dekati, kami tanya: Bapak tahu tidak apa yang Bapak lakukan'. Itu untuk memastikan Bapak itu tidak diperas," ujar Hendra.  
  6. Kejahatan riskan terjadi di pasar tumpah, yang berada di gang-gang dan pinggir jalan yang ramai. "Seorang jamaah perempuan yang tasnya nempel di badan, kemarin teriak ada copet. Kami kejar, pelakunya kabur," ujar Hendra.  
  7. Tas disilet saat berdesak-desakan keluar dari Masjid Nabawi usai salat wajib. Seorang jamaah di Sektor I kehilangan dompet akibat modus ini.Modus di atas melengkapi modus yang telah terjadi sebelumnya yaitu pura-pura membantu jamaah tersesat. Di tengah jalan, pelaku merampas uang jamaah dan meninggalkannya begitu saja.
Atas semua insiden itu, Hendra menyarankan agar jamaah tidak banyak membawa uang saat ke masjid. "Bawalah paling banyak 50 riyal," pesan Hendra. Kalaulah membawa uang banyak untuk berbelanja, sebaiknya pergi berombongan sehingga saling menjaga.

Ibadah Haji Gratis Karena Donor Darah

www.detiknews.com, Senin, 10/10/2011 14:58 WIB 
Jakarta - Sudah 30 tahun Sjamsurizal Zaini aktif sebagai pendonor darah. Dalam kurun waktu itu, dia sudah 125 kali mendonorkan darahnya di Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Palembang, Sumatera Selatan. Siapa sangka, aktivitas kemanusiaannya itu mengantarkan Sjamsurizal menuju Tanah Suci untuk berhaji gratis.

Pemkot Palembang-lah yang memfasilitasi kakek satu cucu tersebut untuk pergi berhaji tahun ini. Hal itu merupakan penghargaan bagi pria berusia 57 tahun yang mendedikasikan waktu di separuh usianya untuk kegiatan donor darah secara rutin.

"Alhamdulillah, Pemkot Palembang telah memberikan sumbangsihnya buat saya untuk pergi ke Tanah Suci. Saya tidak pernah berpikir bahwa dengan mendonorkan darah bisa pergi ke Makkah. Sungguh, tujuan utama saya, adalah ingin menolong sesama yang membutuhkan darah kita," ungkap Sjam, begitu sapaan akrabnya.

Tidak semua orang bersedia menjadi pendonor darah. Berbagai macam alasan membuat aktivitas ini tidak menarik bagi sebagian kalangan. Misalnya rasa takut melihat jarum suntik. Tapi bagi Sjam, rasa takut itu dibuang jauh-jauh demi penyelamatan nyawa manusia yang sangat membutuhkan setetes darah.

Bapak dari empat anak ini memulai aktivitasnya menjadi pendonor saat usianya 27 tahun. Kala itu sekitar tahun 1981, istrinya, Laila Utama akan melahirkan anak pertamanya di salah satu rumah sakit di Jakarta. Sjam melihat adanya perlakukan khusus pagi pendonor darah di rumah sakit tersebut. Sedangkan di sisi lain dia berpikir sang istri yang akan melahirkan anak pertamanya, bisa jadi juga akan membutuhkan darah bila terjadi persalinan yang tidak normal.

"Sejak itu saya berpikir ingin menjadi pendonor darah. Waktu itu kita melihat bagaimana susahnya pihak rumah sakit untuk mencari seseorang yang mau menjadi pendonor. Satu sisi orang yang sakit sangat mengharapkan setetes darah kita untuk menyambung nyawanya," tutur Pak Sjam.

Sebelum menetap di Palembang yang merupakan kampung istrinya, Sjam sempat merantau dari kampung halaman Kota Payakumbuh, di Sumatera Barat (Sumbar) ke Jakarta. Sekitar tahun 1982, Sjam diterima sebagai PNS di Departemen Pertanian di Jakarta dengan bermodalkan ijazah setingkat SLTA. Tak lama setelah menjadi PNS, Sjam pun dipindahtugaskan ke Bumi Sriwajaya, tepatnya di Kota Palembang.

Sjam menyadari, sebagai PNS golongan biasa, dia juga harus menambah penghasilan untuk bisa menyekolahkan keempat anaknya. Istrinya di rumah berbinis kecil-kecilan sebagai pedagang kue basah di pasar tradisional di Palembang.

"Alhamdulillah, dari bisnis kecil-kecilan itu, istri saya dua tahun lalu lebih awal berangkat ke Tanah Suci. Saya baru tahun ini, naik haji diberangkatkan Pemkot Palembang pada kloter 19," kata pria kelahiran 10 Juni 1954 ini.

Di Kota Pempek ini, Sjam tetap melanjutkan kegiatannya sebagai pendoroh darah. Idealnya seorang relawan mendonorkan darahnya sekali dalam tiga bulan. Namun berbeda dengan Sjam yang melakukan donor darah setiap 2 bulan sekali. Ini dimungkinkan karena postur tubuhnya yang besar dan tinggi.

Untuk mendonor darah dalam hitungan 2 bulan tersebut, Sjam tidak perlu melihat kalender. Dia hanya menggunakan feeling. Jika dia merasa badannya kurang enak, maka tandanya dia harus menyumbangkan darahnya.

"Percuma saya ke dokter kalau terasa pusing dan badan terasa sakit. Obatnya hanya satu, harus segera ke PMI untuk mendonorkan darah. Selepas itu, rasanya badan ini ringan kembali, dan enak untuk diajak beraktivitas," kata Sjam yang belum lama meraih sarjana hukum dari Universitas Taman Siswa, Palembang.

Baktinya sebagai pendonor darah yang tercatat 125 kali hingga September 2011 ini, Sjam mendapat penghargaan Satya Lencana Bakti Sosial dari Presiden SBY di Juli 2010 lalu. Kali pertama dalam hidupnya bisa bertemu langsung dengan Presiden SBY di Istana Negara. Penghargaan itu secara langsung diberikan SBY kepadanya di Hotel Sultan Jakarta

Masih di tahun yang sama, Sjam juga menerima penghargaan tertinggi dari PMI di Jakarta. Dia menerima cincin emas yang diberikan langsung oleh Ketua PMI Pusat, Jusuf Kalla. Sjam juga pernah menerima beberapa kali penghargaan berupa sertifikat saat menjadi pendonor darah ke-5 kali, 25 kali, 50 kali dan 100 kali.

Jika dihitung-hitung, selama 125 kali mendonorkan darah, Sjam telah menyumbangkan sekitar 40 liter darah bagi masyarakat yang membutuhkan. Sekalipun usianya sudah 57 tahun dan sudah mendapatkan penghargaan tertinggi dari Presiden RI, namun Sjam tidak akan pernah berhenti mendonorkan darah sampai akhir hayatnya.

"Saya hanya PNS golongan biasa. Hanya lewat darah inilah, saya bisa berbagi ke sesama. Sekalipun saya menerima penghargaan dari pemerintah, itu bukanlah tujuan utama. Tujuan berdonor darah bukanlah mengejar prestasi, melainkan untuk bisa menolang sesama," kata Sjam yang berdarah Minang itu.

Dia juga mengajak masyarakat luas untuk bisa meringankan beban orang yang membutuhkan melalui donor darah. Sebab bagi mereka yang membutuhkan, setetes darah bisa digunakan untuk menolong. Sampai saat ini, Sjam masih selalu diminta pertolongan masyarakat yang membutuhkan darah.

"Kadang kita lagi tidur malam, ada yang menelepon meminta sumbangan darah. Saya tidak pernah menunda hal itu, sepanjang tubuh ini masih memungkinkan untuk diambil darahnya, saya akan tetap berangkat sekali pun tengah malam," ucap Sjam.